Judi Bola

Cerita Seks Tante Liar

209 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Ini terjadi saat aku tetap berumur 16 tahun, dan tetap bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese Indonesia. Kata kawan-kawan wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm

Aku lahir di Canada, tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskan ke Medan, Indonesia Sehingga aku juga ikut, dan bersekolah di sana Mula-mula terasa asing juga kota ini bagiku Tapi lama kelamaan aku juga bisa terbiasa Terus terang, pemikiranku lebih condong terhadap pemikiran-pemikiran Timur, mungkin sebab didikan Mami yang keras Biarpun di negara-negara Barat telah biasa terjadi hubungan seks remaja, tetapi aku belum sempat meperbuatnya dengan pacarku, well… at least pada saat itu

Hari kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumah Tante Farah Rumahnya terletak di salah satu rumit perumahan di Jakarta Selatan Sebelumnya Mami telah menelepon dan mengumumkan kepadanya bahwa aku bakal datang pada hari itu penyuplai poker

“Hai… wahh telah besar sekali kalian kini yah Chris… telah nggak tanda lagi Tante sama kalian sekarang… hahaha”, seingatku kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihatku seusai sekian tahun nggak jumpa

Wajahnya tetap saja sama semacam yang dulu, seakan dirinya tidak bertambah tua sedikitpun “Oh yah… tuh supirnya disuruh pulang saja Chris… ntar kalian bawa saja mobil Tante kalau mau pulang”, aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya

“Wah… besar sekali rumahnya yah Tante”, kataku sewaktu kami memasuki ruang tamu Aku dengar dari Mami sih, katanya suaminya Tante Farah ini anak salah seorang konglomerat Jakarta, sehingga nggak heran kalau rumahnya semewah ini

Seusai itu kami ngobrol-ngobrol, dirinya menanyakan keadaan Mama, Papa dan kakek Tante Farah juga telah lama tidak berjumpa dengan Mami Lumayan lama kami ngobrol, seusai itu dirinya mengajakku untuk makan malam

“Makan dulu yuk Chris… tuh telah disiapin makanannya sama si Ning”, katanya menunjuk ke pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan

“Kita nggak nunggu Om Joe?” aku menanyakan suaminya
“Oh… nggak usah, Om mu nggak pulang malam ini katanya”,

“Oh… ok deh”, kataku sambil beranjak ke ruang makan Rumah sebesar ini cuma dihuni sendirian dengan pembantunya Berani juga Tanteku ini
“Kamu berani pulang entar Chris? telah malem loh ini”, katanya sambil melirik ke jam dinding yang telah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit

“Ah berani kok Tante…”
“Hmm… mending kalian tidur di sini saja deh malem ini… tuh ada kamar kosong di atas ”

“Umm… iyah deh… ntar aku telepon ke Kakek kalau gitu”, dalam hati, aku mengira bahwa Tanteku ini menyuruhku menginap sebab dirinya takut sendirian di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu aku mengiyakan tawarannya

Sehabis makan, aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memkabarhu bahwa hari ini aku menginap di rumah Tante Farah

“Oh iyah… kalau kalian mau mandi air panas, pakai saja kamar mandi Tante Ntar kalian pakai saja bajunya Om Joe Yuk sini!”
“He… eh”, aku mengangguk sambil mengikutinya Kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya

Kamarnya sangatlah mewah dan besar Dengan tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set, dan suatu kamar mandi di aspek ruangan

“Nih… coba… bisa pakai nggak kamu?” dirinya memberbagi T-shirt dan celana singkat kepadaku

“Bisa kayaknya”, aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat Tante Farah Dirinya mengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur

Kelihatan dengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH di punggungnya Terangsang juga aku melihat pemandangan semacam itu Kelihatannya ia tertidur saat melihat TV TV-nya tetap menyala

Aku berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya Melihat adegan panas yang sedang berjalan di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV Kulihat ke belakang, Tante Farah tetap tidur Aku berdiri melihat dulu, sekedar iseng 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu

“Hey…” saat aku sedang asyik melihat, tiba-tiba terdengar teguran halus Tante Farah, diikuti oleh tawa tertahannya Aku sangatlah malu sekali waktu itu Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu Waktu aku berbalik, kulihat Tante Farah telah duduk tegak di atas tempat tidur Samar-samar terkesan puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis

“Kirain Tante telah tidur… hehe”, kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar
“Chris… bisa tolong pijitin badan Tante? Pegel nih semua”, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai

BACA JUGA  Test

Saat aku berbalik hendak menjawab, kulihat Tante Farah telah kembali tidur tengkurap di tempat tidur, tapi hari ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang tetap dikenakannya merupakan celana dalamnya

“Ya…” hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku Aku pun berjalan ke arah Tante Farah Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya “Engghh…” terdengar dirinya mengerang perlahan

“Om Joe kapan pulangnya Tante?” kuatir juga aku ketahuan oleh suaminya

“Emm… mungkin minggu depan… nggak tau deh… kalau Om mu sih… jarang di rumah Mungkin seminggu pulang sekali”, dalam hatiku merasa kasihan juga terhadap Tante Farah Layak saja dirinya merasa kesepian “Fhhuuuhh…” kembali terdengar helaan nafas panjang “Kamu telah punya pacar Chris?” tanyanya memecah keheningan

“Yah… di Medan ”
“Hehehe… cantik nggak Chris?” Tante Farah terbukti dari dulu bahagia bercanda

Sangat tidak sama dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, Tante Farah merupakan penganut keleluasaan Barat Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya “Turun dikit Chris!” aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya “Kamu duduk saja di atas pantat Tante… supaya bisa lebih kuat pijitannya ”

Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, kini duduk di atas pantatnya

“Unghh… berat kamu”, mendengus tertahan dirinya waktu kududuk di atasnya

“Hehehe… tapi katanya suruh duduk di sini”, cuek saja aku melanjutkan pijatanku Penisku telah terasa menegang sekali, sesekali kutekan kuat-kuat penisku ke pantat Tante Farah Mesikipun aku tetap memakai celana lengkap, tetapi telah terasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya

“Iiihh… nakal ya… bilangin Mami kalian lho”, katanya sewaktu merasakan penisku menekan-nekan pantatnya
“Telah belom Tante? telah cape nih”, kataku seusai berbagai menit memijat punggungnya

“Iyah… kalian berdiri dulu deh… Tante mau balik”, aku berdiri, dan Tante Farah kini berbalik posisi Kini aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang tetap kencang itu berdiri tegak di hadapanku Puting susunya yang merah kecoklatan terkesan begitu menantang Aku hingga terbengong berbagai detik dibuatnya

“Hey… pijit tahap depan dong sekarang”, katanya

Aku duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku “Ihh… geli… hihihihi…” dirinya cekikikan Aku sangatlah telah tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi

Sekarang ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan Tante Farah, memberinya kepuasan yang selagi ini jarang ia bisakan dari suaminya Rasa kasihan bakal Tante Farah yang telah lama merindukan kehangatan laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang telah menggelora Aku luar biasa celana dalamnya dengan agak kasar Kulihat dirinya hanya diam saja sambil memejamkan matanya pasrah

Kuakui inilah pertama kalinya aku melihat wanita telanjang dengan cara nyata Tapi agaknya aku tidak begitu canggung, semacamnya aku meperbuat semuanya dengan begitu alami Tante Farah membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas Kulihat dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapi membentuk segitiga di kurang lebihnya “Telah tidak jarang beginian yah kalian Chris?” tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap

“Ehh… nggak kok… baru sekali Tante”, nafasku telah memburu, kata-kata pun telah susah kuucapkan dengan tenang Kulihat nafas Tante Farah juga telah mulai memburu, berkali-kali ia luar biasa nafas panjang untuk menenangkan diri “Jilatin dong Chris!” katanya memelas

Mulanya aku ragu-ragu juga, tapi kudekatkan juga kepalaku ke vaginanya Tidak ada aroma tidak enak sama sekali, Tante Farah rajin menjaga kebersihan vaginanya aku kira Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar Berbagai menit aku bermain-main dengan vaginanya Tante Farah hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat Kulihat ia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya

Aku berdiri sebentar, melepaskan semua pakaianku Bengong dirinya melihat penisku yang 18 cm itu Aku cuma tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati vaginanya Berbagai saat kemudian ia meronta dengan kuat

“aahh… ohh God… aargghh…” bagai gila, dirinya menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke vaginanya dengan dua tangannya Aku susah bernafas dibuatnya

“Lagi… arghh… clitorisnya Chriss… ssshh… yah… yah… lagi… oooohh…” terus menggila lagi dirinya ketika aku mengulum clitorisnya, dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam celah vaginanya

Bau cairan kewanitaan terus keras tercium vaginanya sangatlah telah basah Tiba-tiba dirinya menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di vaginanya dengan cepat dan kasar Lalu ia menegang, dan tenang Saat itu juga aku merasa cairan hangat terus tidak sedikit mengalir keluar dari vaginanya Aku jilati semuanya

BACA JUGA  Cerita Seks Tante Minta Jatah

“Ohh… God… bener-benar luar biasa kalian Chris… lemas Tante… aahh… nggak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt… telah lama nggak begini”, dirinya terbujur lemas seusai 1/2 jam yang melelahkan itu Aku cuma tersenyum Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai

Vaginanya kini terbuka lebar Nampaknya ia tetap terbayang-bayang atas momen tadi dan belum sadar atas apa yang kuperbuat kini padanya Begitu ia sadar penisku telah menempel di bibir vaginanya

“Ohh…” ia cuma bisa menjerit tertahan Lalu ia pura-pura meronta tidak mau Aku juga tidak tahu bagaimana tutorial memasukkan penisku ke dalam vaginanya Aku tidak jarang lihat di film-film, dan mereka meperbuatnya dengan mudah Tapi ini sungguh tidak sama Celahnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku Tiba-tiba kurasakan tangan Tante Farah memegang penisku dan mengajar penisku ke vaginanya

“Tekan di sini Chris… pelan-pelan yah… punya kalian gede banget sih”, pelan ia menolongku memasukkan penisku ke dalam vaginanya Belum hingga seperempat tahap yang masuk ia telah menjerit kesakitan

“Aahh… sakitt… oooh… pelan-pelan Chris… aduuh… ” tangan kirinya tetap menggenggam penisku, menahan laju masuknya supaya tidak terlalu deras Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur

Aku merasakan penisku diurut-urut di dalam vaginanya Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan Tante Farah membikin penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi Aku luar biasa tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya Kemudian kudorong penisku masuk sedikit lagi “Aduhh… sakkkitt… ooohh… ssshh… lagi… lebih dalam Chriss… aahh”, kembali Tante Farah mengerang dan meronta

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya penisku ke dalam Kembali Tante Farah menjerit dan meronta dengan buas Aku diam sejenak, menantikan dirinya supaya agak tenang “Goyang dong Chris”, dirinya telah bisa tersenyum kini Aku menggoyang penisku keluar masuk di dalam vaginanya Tante Farah terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku

Lama juga kami bersi kukuh di posisi semacam itu Kulihat dirinya hanya mendesis, sambil memejamkan mata Tiba-tiba kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat Tubuh Tante Farah mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri

“Ohh… ooohh… Tante telah mau keluar nih… sshh… aahh”, goyangan pinggulnya kini telah tidak beraturan “Kamu tetap lama nggak Chris? Kami keluar bareng saja yuk… aahh”, tidak menjawab, aku mempercepat goyanganku “Aahh… shitt… Tante keluar Chrisss… ooohh… gile”, dirinya menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat

keluar membasahi pahaku Aku terus bersemangat menggenjot Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi

“Aahh… sshh…” kusemprotkan saja cairanku ke dalam vaginanya Lalu kucabut penisku, dan terduduk di lantai
“Kamu hebat… telah lama Tante nggak sempat klimaks ”
“aah… capek Tante ”
“Mandi lagi yuk… lengket-lengket nih jadinya”, ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya

Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman shower Seusai mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman, sambil ngobrol macem-macem VCD porno yang tadi telah habis rupanya Tante Farah menggantinya dengan VCD yang lain

“Eh… yang ini keren loh Chris”, lalu ia mengnasibkannya Filmnya mengenai seorang gadis yang diperkosa, sedikit sadis menurutku, tapi sangat merangsang sekali “Tante telah lama kepengen coba yang semacam itu Chris… kalau Om mu sih… nggak ada seninya… taunya cuman goyang, nembak, tidur… susah juga hahaha… kalian mau coba nggak?” dirinya tersenyum melihatku

“Hehehe… terserah…”
“Ok!” lalu ia berjalan ke lemarinya Sewaktu ia membukanya, aku terkejut juga melihat begitu tidak sedikit Sex Stuff semacam vibrator, tali, handcuff, dan tidak sedikit lagi
“Wah… tidak sedikit amat peralatannya Tante”, kataku bercanda
“He eh… yah beginilah… soalnya Om kalian jarang pulang sih Tante kan perlu seks juga Yah… terpaksa wajib bermain dengan fantasi sendiri ”
“Hehehe”, aku cuma tertawa kecil Kulihat ia mengambil tali dari lemari
“Nih… kerjain Tante semacam yang di film itu dong Chris!” ia melemparkan tali itu kepadaku dan berjalan ke arah tempat tidur

Tempat tidur itu bergaya Eropa pertengahan, memiliki psupaya rendah berjeruji di segi atas dan bawah Ia memegang psupaya berjeruji itu Aku mengikat tangannya di jeruji itu, ia kini membungkuk membelakangiku dengan tangan terbelit Aku berjongkok dan mulai menjilati vaginanya untuk pemanasan

BACA JUGA  Cerita Seks Yang Indah

“Sssh… oouhh…” kembali kudengar erangannya Seusai berbagai saat vaginanya mulai basah “Pakai vibrator Chris!” aku berjalan ke lemari dan mengambil vibrator yang berbentuk semacam penis manusia itu Hati-hati kumasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya, lalu kugeser switch ke posisi “low” Terdengar vibrator itu mulai berdengung halus

“Ouuh… aahh…” kelihatannya Tante Farah sangat menikmati permainan

Tempo permainan sangat lambat hari ini Ia menggelinjang sedikit mengiringi dengungan halus vibrator Sambil sebelah tanganku memegangi vibrator supaya tidak lepas dari vaginanya, aku memberinya tepukan di paha, memberinya tanda supaya ia membuka pahanya selebar-lebarnya “Jilat anus Tante Chris!” kembali ia memberi komando Aku mulai menjilati pahanya yang putih dan jenjang, perlahan berpindah ke anus

Bosan menjilati anusnya, aku berdiri, memeluknya dari belakang, dan meremas payudaranya dengan sebelah tanganku yang tetap leluasa Berbagai saat kemudian ia orgasme Lalu ia menyuruhku memasukkan penisku ke dalam celah anusnya Aku sempat terkejut mendengarnya Menurutku tentu bakal sakit sekali penisku dijepit oleh celah anusnya Tetapi Tante Farah terus-terusan meminta dengan suara yang memelas

“Tante telah sempat nyoba?” tanyaku ragu-ragu
“Pernah… pakai vibrator… cobain saja deh… lebih sempit loh di sini… Tante kepingin nyoba dimasukin 2 celah sekaligus ”
“Ok!” aku kembali membungkuk, kujilat tahap kurang lebih anusnya untuk melicinkannya

Kulihat Tante Farah merintih-rintih ketika vibrator kugoyang agak cepat, tetapi ia tidak bisa tidak sedikit meronta sebab tangannya tetap terbelit kuat ke jeruji tempat tidur Seusai merasa akses lumayan licin aku pun mengambil ancang-ancang, kugesek-gesekkan dulu kepala penisku di kurang lebih anusnya

“Yahh langsung saja Chriss”, Tante Farah yang telah tidak sabar, memundur-mundurkan pantatnya supaya penisku bisa segera masuk ke dalam celah anusnya

Kutarik vibrator yang tetap saja berdengung itu dari belakang, supaya pantat Tante Farah makin menempel ke kepala penisku Dampaknya vibrator itu melesak makin dalam ke vaginanya Tante Farah

“Aahh… ooohh… sshh…” terus menggila saja dirinya Pelan kudorong kepala penisku ke dalam celah anusnya

Kepala penisku terasa sedikit pedih, aku menghentikan dorongannya sejenak “Oooohh… yahh… terussss… deeper Chriss… ”

“Sssshh… oooohh…” aku hanya bisa mendesis menahan pedih yang bercampur nikmat ketika penisku masuk kira-kira setengah tahap ke dalam celah anusnya

Menurutku masuk melewati celah anus tidak begitu nikmat, sebab tidak ada cairan yang melicinkannya Tapi kulihat Tante Farah bagai sedang terbang kini Nikmat sekali katanya Kukira itu sebab dua celahnya sedang terisi

Tante Farah terus saja menggoyang-goyang pinggulnya kebelakang supaya penisku bisa masuk lebih dalam ke dalam celah anusnya Aku tidak bisa menahan lagi goyangannya, kubenamkan sekuat tanaga penisku ke dalam anusnya

Rasanya semacam penisku sedang di massage dengan kuat di dalam Tanpa sadar, sebab menahan nikmat tanganku menggoyang-goyangkan vibrator itu dengan kencang Tempo permainan berubah menjadi liar kini Tangan Tante Farah mencengkeram jeruji tampat tidur dan menggoyangnya sebab nikmat yang tidak terkira

Aku mencoba menggoyang penisku di dalam anusnya Terbukti sedikit pedih sebab tidak lebihnya cairan pelicin di dalam anusnya, tapi aku tidak peduli lagi Sesekali kugunakan tangan kiriku untuk meremas payudaranya yang tergantung-gantung itu Berbagai saat kemudian aku merasa mau orgasme

“Aahh… oouuhh… Tante telah mau keluar belum?” tanyaku dengan nafas memburu
“Engggh… sssssh… iyah…”

Kurasakan Tante Farah terus menggila menggoyang pinggulnya Kemudian dirinya tubuhnya menegang, kemudian terkulai lemas Aku pun merasa maniku telah di ujung-ujungnya Kupercepat goyangan, kuremas payudaranya dengan kasar, dan kukocok vibratornya lebih cepat lagi Kulihat Tante Farah menjerit-jerit, tapi ia tidak bisa berbuat tidak sedikit sebab tangannya terbelit dengan kuat

“Arrrgghh… ooohh…” seiring dengan eranganku, kusemprotkan maniku ke dalam anusnya Hari ini kurasakan maniku keluar tidak sedikit sekali Lalu kucabut penisku dari dalam anusnya, dan kucabut vibrator dari vaginanya

Sekilas kulihat vagina dan anusnya merah sekali dan sedikit membengkak Kubuka ikatan tangannya dan dirinya memeluk dan menciumiku Lalu kami berdua tertidur di lantai Pengalaman ini tidak bakal sempat kulupakan Hingga kini kami kadang-kadang tetap meperbuatnya

Tante Farah sangatlah seorang seks maniak yang tidak bisa puas, setiap kali berhubungan rutin ada saja cara-cara baru yang ia ajarkan Kukira ini juga mempengaruhi tingkah laku seksual ku Hingga kini aku bahagia meperbuat hubungan seks dengan fantasi tinggi, semacam memakai tali, cambuk, handcuff, dan sebagainya

Aku menjadi bahagia menyiksa lawan mainku Semacamnya puncak kenikmatanku susah tercapai kalau aku tidak meperbuatnya.

author
No Response

Comments are closed.