Judi Bola

Cerita Seks Tante Gatal

304 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Namaku Didi (bukan nama sebetulnya), aku bekerja di suatu perusahaan lumayan populer di Jawa Barat, di suatu kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut populer dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis.

Aku dan kawan-kawan kost setiap pulang kantor rutin menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang tak jarang lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada suatu warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk keperluan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua.

Aku telah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tak mengangkat uang alias saat belanja uangnya tak lebih aku telah tak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Bunda Cici (tapi aku terbuktigilnya Tante Cici), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil.

Warung Tante Cici buka pagi-pagi kurang lebih jam lima, terus tutupnya juga kurang lebih jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Cici sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya. Semacam biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus telah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama kawan-kawan kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang tak lebih.., apa ya..?,

Oh ya rokok, tapi seusai aku lihat jam dinding telah menunjukkan jam 9 tak lebih 10 menit (malam), aku sehingga ragu, apa warung Tante Cici tetap buka ya..?, Ah.., aku coba saja kali-kali saja tetap buka. Oh, nyatanya warung Tante Cici belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.

“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi semacam ini, kali saja lupa nutup warung.

Ah kucoba panggil sekali lagi,

“Permisi.., Tante Cici?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah sehingga deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar nyatanya Tante Cici, hanya memakai handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru berakhir mandi juga habis keramas.

“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?

“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Didi Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante”,

sekilas mataku menonton badan yang lain yang tak terbungkus handuk.., putih mulus, semacam tetap gadis-gadis, baru hari ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Cici, soalnya biasanya Tante Cici rutin pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Cici tak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

BACA JUGA  Cerita Seks Tak Sanggup Menolak

Malam gini kok belum tutup Tante..?

“Iya Mas Didi, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu”

“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Didi kata Tante Cici.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung telah tertutup, saat ini aku pulang lewat belakang saja.

“Trimakasih lho Mas Didi..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Tante saya lewat belakang saja”.

Saat aku dan Tante Cici berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Cici terkesan hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Cici menjerit sambil dengan cara reflek memelukku.

“Mas Didi.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, saat ini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda,

dengan background hitam rambut-rambut halus di kurang lebih vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang telah bangun sejak tadi menyentuh tante.

“Mas Didi.., burungnya bangun ya..?”.

“Iya Tante.., ah sehingga malu Saya.., habis Saya lihat Tante semacam ini mana harum lagi, sehingga nafsu Saya Tante..”.

“Ah tak apa-apa kok Mas Didi itu wajar..”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Didi kapan mo nikah..?”.
“Ah belum terpikir Tante..”.

“Yah.., kalau mo’ nikah wajib siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tak bertanggung jawab terhadap keluarga.., nah dampaknya kini Tante wajib bersetatus janda. Gini tak enaknya sehingga janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Didi.. keperluan batin..”.

“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi keperluan itu..”, tanyaku usil.
“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.

Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi keperluan batin Tante Cici.., ough.., pikiranku tambah usil. Waktu itu bentuk sarungku telah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

“Mas Didi burungnya tetap bangun ya..?”.

Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Cici meraba burungku.

“Wow besar juga burungmu, Mas Didi.., burungnya telah sempat ketemu sarangnya belom..?”.

“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang telah lama tak sempat kurasakan.

“Mas.., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat aku menjawab, Tante Cici telah luar biasa sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.

BACA JUGA  Cerita Seks Mencapai Kenikmatan

“Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.

“Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melalui celana dalam, Aku sendiri tak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Cici.

“Wah.., Tante yakin, yang kelak sehingga istri Mas Didi tentu bakal seneng dapet suami kaya Mas Didi..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Cici telah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu sebab burungku nyatanya telah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tak terlalu besar itu.

“Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”,

desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, hari ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dirinya keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., semacam terbang rasanya. Kadang-kadang juga dirinya sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.

Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dirinya pegangi burungku sambil berlangsung ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Cici naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

“Mas Didi.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.

Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tak terlalu tak sedikit. Aku sehingga tak percaya kalau Tante Cici telah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir payau yang begitu tak sedikit keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke celah vaginanya.

“Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus Mas.., Maas..”,

aku terus keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil terus membikinku gila. Kemudian Tante Cici membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

“Ayo Mas Didi.., Tante telah tak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu telah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Didi.., burung Mas Didi kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tak dengar komentar Tante Cici soal burungku, aku menonton pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum payau demikian terkesan mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.

“Aughh..”, teriak tante.
“Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.

“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.

“Tante.., sempit sekali Tante.?”.

“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya telah lama sich Tante tak ginian.., ntar juga nikmat..”.

BACA JUGA  Cerita Seks Ibu Muda

Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas.., Tante Cici telah semacam cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.

Begitu juga aku.., mesikipun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Terus lama gerakanku terus cepat. Hari ini burungku telah hanyut dimakan vagina Tante Cici. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Cici. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Didi..”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Cici.
“Mas Didi telah mau keluar ya..?”.

Aku menggeleng. Kemudian Tante Cici telentang kembali, aku semacam kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan sebab gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Cici terus mendesah,

“Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Cici memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh Mas.., aku keluar lagi..”,

kemudian dari kewanitaannya aku rasakan terus licin dan terus besar, tapi denyutannya terus terasa, aku dibangun terbang rasanya. Ach rasanya aku telah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Cici.

“Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah..”, desah Tante Cici.

Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang bakal dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Cici, tetap aku gerakkan badanku rupanya hari ini Tante Cici orgasme kembali, dirinya gigit dadaku.

“Mas Didi.., Mas Didi.., luar biasa Kalian Mas”.

Aku kembali kenakan celana dalam dan sarungku. Tante Cici tetap tetap telanjang telentang di atas meja.

“Mas Didi.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau telah tutup digedor saja.., tak apa-apa.., malah kalau tak digedor Tante sehingga marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang tetap nampak bengkak.

“Tante ingin Mas Didi tak jarang bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak pergi ke kantor, saat di depan warung Tante Cici, aku di panggil tante.

“Rokoknya telah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang tak sedikit-tidak sedikitnya, tapi mereka tak tahu apa maksud perkataan Tante Cici tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

author
No Response

Comments are closed.