Judi Bola

Cerita Seks Pijitan Nikmat

250 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Kurasa hampir semua orang pasti sempat merasakan dipijat, apa lagi para laki-laki hidung belang semacam sebagian besar pembaca cerita mesum. Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di panti-panti pijit plus yang menjamur di mana-mana.

Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya semacam iklan minuman ringan, bisa di mana saja, kapan saja serta dengan siapa saja. Ini tidak sama sekali dengan kaumku, kalau badan pegal wajib sulit payah cari mbok pemijat yang belum pasti ada di setiap tempat, apa lagi di kota besar semacam Surabaya ini.

Biasanya kalau badanku terasa pegal-pegal, kuminta bantuan adikku untuk memijatnya. Kadang kami bergantian saling pijat. Tetapi hari ini rumahku sedang kosong. Adikku tetap kuliah sedangkan orang tuaku belum pulang dari tugas selalunya mencari nafkah.

Hari ini aku agak sedikit tidak lebih enak badan. Terasa sekali badanku pegal-pegal, tetapi di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kucoba bertanya terhadap tetangga kanan kiri siapa tahu ada yang tahu kalau-kalau ada tetangga kurang lebih yang bisa memijat.

Sebetulnya aku tahu bahwa di ujung gang sana ada seorang tukang pijat yang populer di kurang lebih rumahku, tapi laki-laki, namanya Pak Mat. Tidak bisa kubayangkan bahwa tubuh molekku ini bakal dipijat oleh seorang tukang pijat laki-laki, bisa-bisa yang dipijat kelak hanya di daerah-daerah tertentu saja.

Akhirnya aku bisakan juga seorang tukang pijat wanita. Namanya Mbak Tun yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumahku. Kucoba untuk mendatangi rumah Mbak Tun yang jaraknya hanya kurang lebih dua ratus meter dari rumahku. Kebetulan Mbak Tun ada di rumah serta bersedia datang ke rumah untuk memijatku. seusai berganti pakaian serta membawa sedikit perlengkapannya, Mbak Tun mengikutiku pulang.

Mbak Tun usianya tetap relatif muda, hanya sedikit lebih tua dariku. Perdiksiku Mbak Tun saat ini berumur kurang lebih 35 tahun. Tetapi di usianya yang relatif tetap muda itu Mbak Tun telah menjanda. Ia nasib bersama ibunya, satu-satunya orang tuanya yang tetap tersisa.

Mbak Tun telah 6 tahun bercerai dengan suaminya yang telah kawin lagi dengan wanita lain sebab perkawinannya dengan Mbak Tun tidak dikaruniai anak. Cerita mengenai Mbak Tun ini kuperoleh dari Mbak Tun sendiri saat memijat tubuhku. Sambil memijat Mbak Tun bertutur mengenai kenasibannya padaku.

Walau tinggal di Surabaya, Mbak Tun tetap semacam layaknya orang udik, pengalamannya tetap sedikit sekali soal dunia modern, tetapi untuk urusan sex semacamnya Mbak Tun punya cerita tersendiri. Semuanya bakal kukisahkan pada ceritaku hari ini.

Sesampai di rumahku, Mbak Tun kuajak langsung masuk ke kamarku yang sejuk ber-AC. Suhu udara di luar sana bukan main panasnya, berbagai bulan terbaru ini kota Surabaya terbukti sedang dilanda cuaca panas yang menarik, konon panasnya mencapai 37 derajat celcius.

BACA JUGA  Cerita Seks Guru Binal

Kubuka kancing hemku serta kutanggalkan hingga tahap atas tubuhku yang mulus terpampang dengan jelas sekali. Payudaraku tampak segar serta ranum dengan ujung puting susuku yang bersih berwarna merah muda sedikit kecoklatan. Rok miniku juga kutanggalkan.

Kini tubuhku telah hampir telanjang bulat, hanya tersisa CD yang kukenakan. Mata Mbak Tun tampak terkagum-kagum pada bentuk tubuhku yang ramping serta sexy, terlebih saat menonton bentuk CD-ku yang mini itu. Aku saat itu menggunakan G String berenda yang ukuran rendanya tidak lebih dari seukuran satu jari melingkari pinggangku, selebihnya sepotong rendah yang tersambung di belakang pinggangku, turun ke bawah melalui belahan pantatku, melingkari selangkanganku hingga ke depan.

Cocok di tahap vaginaku, tersedia secarik kain berbentuk hati kecil yang keberadaannya hanya sanggup menutupi tahap depan liang vaginaku. Lalu aku tengkurap di tempat tidur dengan hanya memakan CD. Mbak Tun mulai memijat telapak kaki, mata kaki, betis, naik lagi ke pahaku.

Awalnya aku biasa-biasa saja, pijatan tangannya juga terasa pas menurutku, tidak terlalu lemah serta juga tidak terlalu keras yang bisa menyebabkan terasa lebih sakit seusai di pijit plus. Menurutku, tutorial memijat Mbak Tun lumayan baik. Seusai memijat kaki kanan, saat ini Mbak Tun berpindah memijat kaki kiriku, urutannya semacam tadi. Saat ini giliran pahaku tahap atas yang di pijit plus juga kedua belahan pantatku.

“Mbak! CD-nya kok modelnya lucu ya?” tanya Mbak Tun lugu mengomentari bentuk CD-ku.
“Emangnya kenapa Mbak Tun?” tanyaku padanya.

“Oh enggak Mbak! Kalau digunakan kok semacam tidak pakai CD aja ya? Bokong (pantat) Mbak tetap kelihatan, serta tahap depannya, jembut (bulu kemaluan) Mbak juga kelihatan, Hii.. Hii.. Hii..! Kalau aku sih tidak berani pakai CD yang model begitu”, oceh Mbak Tun tetap mengomentari bentuk CD yang kupakai saat itu.

Sambil mengngoceh serta bercerita, tangan Mbak Tun tetap memijat pahaku. Yang saat ini bisa giliran merupakan pahaku tahap atas, cocoknya di daerah pangkal paha serta belahan pantatku. Aku sengaja tidak menjawab ocehannya sebab aku ingin menikmati pijit plus nya. Sambil sedikit tiduran, mataku kupejamkan saat dipijat Mbak Tun.

Letak kedua kakiku dibentangkan terpisah agak lebar jadi posisi pahaku terbuka. Mbak Tun memijat tahap dalam pahaku yang tahap atas dekat selangkanganku hingga aku merasakan sedikit geli, tapi enak sekali. Tidak hanya pegalku di tahap kaki serta paha mulai sedikit bertidak lebih, aku juga mulai merasakan horny,

apa lagi saat jari-jari Mbak Tun memijat tahap pangkal pahaku. Jarinya sempat menyentuh gundukan vaginaku hingga rasanya ujung CD-ku mulai lembab. Untungnya Mbak Tun telah mulai pindah posisi memijat punggungku, naik ke leher serta beres di kepalaku.

BACA JUGA  Cerita Seks Karyawan Seksi

Beres memijat tahap belakang tubuhku, Mbak Tun mengambil body lotion serta dioleskannya ke kaki serta pahaku. Rasanya sedikit dingin saat mengenai kulitku. Kalau tadi memijat, saat ini Mbak Tun ganti mengurut tubuhku mulai dari telapak kaki, betis hingga pahaku. Kembali saat mulai mengurut pahaku tahap atas aku merasa geli, terlebih saat paha tahap dalamku yang diurut olehnya.

“Mbak! CD-nya dilepas aja ya, toh percuma pakai CD cuma sepotong begitu, lagian kami kan sama-sama wanita serta tidak ada orang lain di kamar ini, soalnya kelak kena hand body nyucinya sulit”, pinta Mbak Tun padaku.

Tanpa menjawab, kumiringkan sedikit tubuhku sambil sedikit membungkuk. Kubuka CD-ku serta kulepas dengan bantuan ujung kakiku. Saat ini aku telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Posisiku kembali tengkurap menantikan tangan Mbak Tun kembali mengurut tubuhku.

Mbak Tun kembali ke tugasnya mengurut tahap bawah tubuhku yang telah dilumuri body lotion tadi. Jarinya kembali bersarang di pangkal pahaku tahap dalam, sambil sekali-sekali mengurut kedua gundukan pantatku. Aku tidak hanya merasakan pegalku mulai bertidak lebih, tetapi aku juga merasakan semacam ada sebuahrangsangan tersendiri menyerang tubuhku tahap bawah.

Mulutku menggigit bantal yang kupakai untuk menopang daguku saat tengkurap sebab menahan rasa geli di selangkanganku, manakala jari tangan Mbak Tun menyentuh bibir vaginaku. Terkada sentuhannya masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh lubang belahan bibir vaginaku.

Semakin terang liang vaginaku mulai bawah hingga cairan bening tidak terbendung mulai membasahi liang serta dinding dalam vaginaku. Saat mengurut gundukan pantatku, seakan dengan sengaja jari Mbak Tun disentuhkannya ke vaginaku kembali hingga ujung jarinya sempat menyenggol ujung klitorisku.

Aku jadi tersiksa sekali sebab menahan hasrat birahi yang muncul dampak sentuhan tangan serta jari Mbak Tun saat memijat serta mengurut tahap bawah tubuhku. Untungnya urutan Mbak Tun segera pindah ke punggungku, semakin naik ke leher serta kembali beres di kepalaku.

Kalau di tahap atas tubuhku, aku tetap tidak merasakan sebuahrangsangan semacam tadi. Tetapi rupanya seusai beres memijat kepalaku, Mbak Tun kembali memijat serta mengurut kedua bongkahan pantatku, yang pastinya pangkal pahaku kembali menjadi sasarannya pula.

Aku tidak kuasa menolak, sebab tidak hanya kupikir Mbak Tun toh juga seorang wanita, serta juga normal sebab sempat bersuami meski telah lama bercerai. Aku toh akhirnya juga menikmati semua sentuhan tidak disengaja maupun mungkin disengaja saat jari-jari tangannya mengusap tahap luar vaginaku. Hingga akhirnya aku sangatlah tidak tahan lagi.

BACA JUGA  Cerita Seks Tante Minta Jatah

“Telah! Cukup! Terima kasih ya Mbak”, ujarku akhirnya.
“Kok telah toh Mbak?”, Tanya Mbak Tun padaku.

“Bagian depannya belum diurut lho! Ayo telentang Mbak, kuurut sebentar perutnya supaya ususnya tidak turun”, tambah Mbak Tun dengan sedikit memerintah.

Herannya aku menurut juga. Serta lalu aku pun telentang di hadapan Mbak Tun. Mbak Tun mulai kembali mengolesi body lotion ke tahap dada serta perutku. Mbak Tun langsung mengelus tahap atas dadaku dekat leher sedang jarinya mengurut ke bawah ke arah payudaraku. Kemudian area kurang lebih payudaraku juga diurut lembut mirip elusan. Aku yang telah horny sejak tadi jadi lebih blingsatan lagi hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidah mengaduh.

“Aduuh! Geli Mbak!” protesku, tapi Mbak Tun diam saja sambil semakin mengurut pinggiran payudaraku.

Kemudian perutku diurut dari setiap penjuru mengarah ke pusar. Saat ini giliran pahaku diurut oleh Mbak Tun. Tutorial mengurutnya naik ke atas menuju pangkal paha, letak kakiku dipisahkan agak lebar jadi posisiku lebih terkangkang lagi. Mbak Tun semakin mengurut pahaku. Saat mengurut tahap dalam pahaku, aku menggeliat tidak karuan.

Kemudian Mbak Tun mengurut mulai cocok di atas vagina menuju pusarku. Katanya ini merupakan untuk menaikkan usus dalam perutku supaya supaya tidak turun ke bawah. Aku diam saja tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, semakin terang pijit plus nya terbukti enak hingga pegal yang ada di tubuhku sedah tidak terasa lagi. Tetapi tidak hanya itu aku juga memperoleh rangsangan seksual dari tutorial Mbak Tun mengurutku.

“Telah, kini yang terbaru” kata Mbak Tun sambil membuka lebar pahaku.

Mbak Tun berpindah posisi duduknya. Saat ini dirinya berjongkok cocok di hadapan selangkanganku yang terkangkang lebar. Kedua tangannya dengan cara bersamaan mengurut kedua pahaku, dari arah lutut menuju selangkangan hingga aku jadi menggeliat tidak karuan menahan geli.

Kemudian kedua bunda jarinya mengurut-urut lubang lipatan selangkangan dekat vaginaku dengan tutorial mengurutnya dari bawah ke atas semakin berulang-ulang. Bibir vaginaku menjadi saling gesek sebabnya hingga rangsangan dahsyat melanda tahap bawah tubuhku serta akhirnya aku tidak kuasa lagi mengendalikan nafsu birahiku sendiri hingga tanpa butuh merasa malu lagi pada Mbak Tun, jariku kuarahkan ke klitorisku serta semakin kugosok-gosokkan sambil membawa serta menggoyang-goyang pantatku.

Aku akhirnya orgasme sebab pijit plus di hadapan Mbak Tun. Persetan kalau mau dirinya tertawa, bathinku. Tetapi nyatanya Mbak Tun tetap cuek saja hingga aku beres melepaskan orgasme. Lalu kubayar ongkos Mbak Tun memijatku serta kuminta dirinya untuk pulang sendiri.

author
No Response

Comments are closed.