Judi Bola

Cerita Seks Pesta Bertukar Pasangan

218 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Aku sedang menyantap makan siang di suatu cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantorku. Hari itu aku dikawani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku serta Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan agenda bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor.

Namun hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin berjumpa untuk menuturkan proyek komputerisasi, jadi aku ajak saja dirinya untuk bergabung menemaniku makan siang. Aku serta Pak Erwan berbincang-bincang tentang proyek implementasi aplikasi serta juga tambahan hardware yang diperlukan.

Terbukti perusahaanku sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang telah tidak bisa memenuhi kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kami berdua. Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba handponku berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

“Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi” suara merdu terdengar diseberang sana.

“Oh iya. Kelak sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak tunggu sebentar ya” jawabku.

“He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak” Santi menggoda.
“Betul Pak.. OK hingga ketemu sebentar lagi ya” kataku sambil menutup pembicaraan.
“Dari klien” kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Faktor ini mengingat Pak Arief, suami Santi, merupakan manajer keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, jadi aku bisa leluasa menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku mengatakan pada Lia bahwa aku bakal langsung menuju tempat klienku. Semacam biasa, aku minta agar aku tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk pergi mengerjai istri orang he.. He..

Seusai kesal sebab terjebak macet, hingga jugalah aku di rumah Santi. Hari telah menjelang sore. Bayangkan saja, telah berbagai jam aku di jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, serta memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dirinya tersenyum gembira melihat kedatanganku.

“Aih.. Pak Robert kok lama sih” katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kalian sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada” candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju “you can see” nya yang menunjukan lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak terus padat dibalik bajunya. Mungkin sebab telah kemarin hari ini aku remas serta hisap sementara suaminya aku “asingkan” di negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah serta aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghapus dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu seusai lelah terjebak macet tadi.

Dahagakupun langsung hilang, namun seusai melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku tetap bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia. Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku bakal membuka bajunya, dirinya menahanku.

“Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak”
“Apaan nih?” jawabku bahagia.
“Ini ada kawan Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.”

Lalu dirinya bercerita kalau dirinya berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dirinya sedang berolahraga di gym. Seusai mulai akrab, merekapun bercerita tentang kenasiban sex mereka. Pendek cerita, Susan memperkenalkan untuk ber-pesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.

“Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum sempat lihat yang sebesar punya Pak Robert” kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.

“Saya sih OK saja” jawabku riang.

“Oh ya.. Kelak pura-pura saja Pak Robert suamiku” kata Santi sambil pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.

Aku serta Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang. Untung jalanan Jakarta telah agak lengang. Tidak lama kamipun hingga di rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun membahas kalau kami telah ada janji dengan maapabilannya. Susan menyambut kami dengan ramah.

BACA JUGA  Cerita Seks Pelajar SMA

“Ini perkenalkan suami saya”

Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang berhasil. Santipun memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis populer yang tergantung di dinding. Bayangkan saja alangkah kayanya mereka, sebab orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Namun aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini terbukti cantik sekali. Khususnya kulitnya yang putih serta mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk bakal jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar serta bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada artis panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dirinya mengajakku untuk mengikuti dia.

“Pak, habis ini pulang aja yuk” kata Santi berbisik perlahan seusai keluar dari ruang makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Telah tua, botak, perutnya buncit lagi”.

Aku tertawa geli dalam hati. Namun aku pasti saja tidak menyetujui permintaan Santi. Aku telah ingin pesta seks serta menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali semacam boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Seusai makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk mengawali pesta seks serta membangkitkan gairah kami. Tidak lama, seorang gadis pesuruh kecil datang untuk menyuguhkan buah-buahan. Namun mungkin sebab kaget melihat adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dirinya menjatuhkan gelas kristal jadi pecah berkeping-keping.

Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu, sedangkan si pesuruh kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali. Adegan di TV tampak terus hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.

“Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu”

Aku tersenyum mendengar argumen Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebetulnya aku tidak butuh lihat yang semacam ini, mengingat tubuh Susan telah sangat mengajak gairahku. Tidak lama akupun merasa ingin buang air kecil, jadi akupun pamitan ke belakang.

Seusai dari toilet, aku berlangsung melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil pembantunya tadi.

“Ampun non.. Sri nggak sengaja” si gadis kecil memohon belas kasihan pada maapabilannya, Susan yang cantik itu.

“Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kalian bicara ya. Itu gelas harganya lebih dari setahun gaji kalian tahu!!” bentak Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..”

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan kepuasan seusai mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata orang, kalau wanita tidak lebih bisa menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi pemarah.

Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pesuruh itu. Namun entah mengapa justru hasrat birahiku terus timbul melihat Susan yang semacamnya lemah lembut bisa bersikap galak semacam itu.

“Dasar bedinde.. Verveillen!!” Susan tetap terus berkacak pinggang memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih serta tinggi, kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil serta hitam.

“Ampun non.. Nggak bakal lagi non..”

“Oh Pak Robert..” kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya tangan dari pinggangnya serta beranjak ke arahku.

BACA JUGA  Cerita Seks Pijitan Nikmat

“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu” jawabnya sambil tersenyum manis.
“Yuk kami kembali” lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi tetap melihat adegan di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku serta Susanpun langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku meperbuat “french kiss” serta Susanpun menyambut penuh gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas kemaluanku. Dirinya kemudian jongkok di depanku yang tetap duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping jadi kemaluankupun mencuat keluar.

“Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..” katanya sambil menjilat kepala kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, jadi kemaluankupun leluasa tanpa ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan tergolong buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya semacam anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum serta menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, semacam seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam serta diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, serta tidak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dirinya mencapai orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dirinya pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Sementara itu Susan tetap dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar. Terbukti kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh tidak sama. Apalagi seusai dirinya mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil serta tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tidak heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali timbul di ruang itu, serta menghampiriku. Susan tetap berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi duduk di sampingku serta mulai menciumiku. Dibukanya bajuku serta puting dadakupun dihisapnya.

Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang telah loyo.

Kuangkat baju Santi serta juga BHnya, jadi buah dadanya menantang di depan wajahku. Langsung kuhisap serta kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan tetap mengulum serta menjilati kemaluanku.

Seusai puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dirinya kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian serta hak tingginya saja yang tetap melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar serta padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, jadi kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku serta kamipun berciuman kembali dengan bergairah.

“Ayo isap susu ik ” pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke mulutku. Tidak butuh dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap serta kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.

Seusai itu, dirinya kembali berdiri serta kemudian berbalik membelakangiku. Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap suaminya yang tetap berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang jadi aku bisa menciumi kembali bibirnya serta wajahnya yang cantik itu.

“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya serta sesekali menjilati serta menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Seusai itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

BACA JUGA  Cerita Seks Yang Tak Terlupakan

Seusai berbagai menit, aku berdiri serta kuminta Susan untuk menungging di sofa. Aku ingin menggenjot dirinya dari belakang. Kusetubuhi dirinya “doggy-style” hingga kalung berlian serta buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku serta kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati serta mengulumnya. Sangatlah nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.

“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That’s right.. Aha.. Aha..” begitu erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Faktor itu meningkatkan suasana erotis di ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya. Dihampirinya Santi serta ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun mau tidak mau mengikuti kemauannya. Terbukti telah perjanjian bahwa aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati “istipsu”.

Sementara itu, aku tetap menggenjot Susan dengan cara doggy-style. Sesekali kuremas buah dadanya yang berayun-ayun dampak dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tidak berbagai lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dirinya telah mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku tetap menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Seusai itu kubalikkan badannya serta kusetubuhi dirinya lagi, hari ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah serta buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.

“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..” Susan terus meracau kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang serta dirinya menjerit melepaskan segala beban birahinya. Akupun telah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya serta kusuruh dirinya menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dirinya sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, serta aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan spermaku itu, mesikipun sebagian menetes tentang kalung berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.

“Thanks Robert.. I really nyamaned it” katanya sambil membersihkan bekas spermaku di dadanya.

“No problem Susan.. I nyamaned it too.. Very much” balasku.

Seusai itu, kamipun kembali mengobrol berbagai saat sambil menikmati desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk meperbuat pesta seks lagi dalam waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dirinya diam saja di dalam mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya sebab aku sangat puas dengan pengalaman pesta seks ku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.

“We’re in this love together..”
“Kenapa sih sayang?” tanyaku ketika kami telah hingga di depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau pesta seks lagi deh” katanya.

“Habis Santi nggak suka pesta seks sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi nanggung nih.”

Akupun tertawa geli mendengarnya.

“Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan making love pas pesta seks” rengeknya.

“Wah telah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata Santi merengut manja.
“Besok khan tetap ada sayang” hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..” rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”

Sebetulnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku segan menggunakan Santi seusai dirinya disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dirinya wajib bersih-bersih dulu.. He.. He..

Mungkin besok pagi saja aku bakal pesta seks serta menikmatinya kembali, sebab Pak Arief toh tetap kemarin hari lagi di luar negeri.

author
No Response

Comments are closed.