Judi Bola

Cerita Seks Membawa Ketagihan

202 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, semakin terang, saya juga tidak dapat dikatakan tidak luar biasa. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm serta berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B.

Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya alias 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya arti serta sabar.

Sebab sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih tidak sedikit seusai sepulang alias sebelum pergi kerja. Walau begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Serta sering pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, khususnya yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada persoalan yang berarti. Terbukti tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, sebab suami saya itu sering pulang tengah malam, pasti saja ia tampak capek bila telah berada di rumah. Bila telah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

Bila Rio telah mengatakan, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala walau saat itu mata saya tetap belum mengantuk. Dampaknya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang tetap nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan tidak sedikit hal. Mengenai jabatan di kantor, mengenai anak, mengenai hari esok serta juga mengenai ranjang.

Bila telah hingga mengenai ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Semacam cerita Ani alias Indah di kantor, yang setiap pagi rutin punya cerita hebat mengenai apa yang mereka lakukan dengan suami mereka pada malamnya.

Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Serta saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Serta mungkin pikiran semacam itu bakal semakin berlangsung bila saja saya tidak berjumpa dengan Karyo. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi. Usianya mungkin telah 50 tahun. Gemuk, perut buncit serta hitam.

Begini ceritanya, saya berjumpa dengan pria itu. Sebuahmalam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang mengangkat sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Tetapi, pria itu marah-marah.

“Anda tidak lihat jalan alias bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin sebab merasa bersalah alias takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan serta SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya bakal membenahi semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu semacamnya tetap marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Seusai menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Blazer suami saya masuk.

Terpaksalah kami berlangsung serta menitipkan mobil di pinggir jalan. Rumah kontrakan Pak Karyo hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya telah tidak sedikit terkelupas, sementara kertas serta koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

BACA JUGA  Cerita Seks Pijitan Nikmat

“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Karyo yang hanya pakai singlet serta kain sarung.

Seusai berbasa busuk serta minta maaf, Rio mengatakan kalau sepedamotor Pak Karyo telah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Serta bakal siap dalam dua alias tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tidak persoalan,” katanya.

Saya tahu, berbagai kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar walau ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang telah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya semacam logam yang bengkok-bengkok, kasar.

Karyo kemudian bercerita kalau ia telah puluhan tahun bertugas serta tiga tahun lagi bakal pensiun. Telah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya telah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.

Pertemuan kedua, di kantor polisi. Seusai kemarin hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anak buah polisi kalau penodong saya itu telah tertangkap, tetapi barang-barang berharga serta HP saya telah tidak ada lagi. Telah dipasarkan si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget serta berusaha mengelak. Sebab buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton serta terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya.

Dampaknya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat serta besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tidak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Dapat-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya dapat tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya argumen untuk menolaknya. Sambil minum ia tidak sedikit bercerita. Mengenai motornya yang telah baik, mengenai istri yang minta cerai, mengenai dia yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin sebab seringkali diam bila berjumpa serta ia pun makin punya keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Alias menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Alias mengenai faktor lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk dapat berjumpa dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, sering pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

Ketika sebuahkali, suami saya ke Jakarta sebab ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah memperkenalkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tidak selagi sepakan di Jakarta, pasti saja gembira dengan tawaran itu. Serta saya pun merasa tidak punya argumen untuk menolak.

BACA JUGA  Cerita Seks Belajar Ngentot

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita serta juga nanya-nanya. Serta sebab kemudian telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan bunda mertua supaya saya segera punya anak. Serta ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya dapat bantu,” katanya. Ia makin mendekat.
“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.
“Mudah-mudahan saya dapat bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat serta sedikit diurut,” kata Pak Karyo pula.

Dengan pikiran lurus, seusai sebelumnya saya memkabarhu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga tetap pakai kain sarung serta singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melewati kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di tahap perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Seusai itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

“Sekarang saja kami mulai pengobatannya,” ujarnya seraya mengangkat saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil serta pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang telah menipis.

Pak Karyo kemudian memberbagi kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika menonton saya tetap bengong.

Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar serta keras itu di perut saya. Ia menyibak tahap bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya menonton gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil hebat CD saya. Oops! Saya kaget.
“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menantikan persetujuan saya, Par Karyo menggeser tahap atasnya. Saya merasakan bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Walau ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di tahap perut. Kedua paha saya yang tetap rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

“Ada yang tidak selesai di tahap peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun telah basah. Kepala saya miring ke kiri serta ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Walau tidak membuka BH, tetapi remasan tangannya sanggup membikin panyudara saya mengeras.

Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai telah merosot hingga ujung kaki. CD juga telah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karyo telah menjilati selangkang saya yang telah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

BACA JUGA  Cerita Seks Hilangnya Perawanku

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tidak sempat menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karyo sangatlah membikin dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya tetap terbenam di selangkangan saya.

Sangatlah sensasi yang sangat mengasyikan. Serta saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas.

Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum sempat saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu semakin ke tahap pinggang. Serta ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus serta vagina. Berlangsung dengan lambat. Ketika pas di celah anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Semakin terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya dapat melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karyo itu. Besar serta hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya hingga ternganga ketika ujung kontol Pak Karyo mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya semacam ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karyo yang awet.

Hampir sepuluh menit Pak Karyo yang awet asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang telah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Awet juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tanda-tanda itunya bakal ‘menembak’.

Padahal, saya telah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini sangatlah terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

Saya hanya dapat diam saja ketika Pak Karyo yang awet tetap menggoyang. Berbagai saat kemudian, baru itu hingga pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun roboh diatas tubuh saya. Hebat awet permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio yang tidak lebih awet.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo yang awet. Kami tetap sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di hotel. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio.

Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga perlu belaian keras Pak Karyo yang awet itu. Entah hingga kapan.

author
No Response

Comments are closed.