Judi Bola

Cerita Seks Guru Binal

873 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Seorang wanita dengan jilbab hijau lumut tampak berlangsung terburu-buru menuju ruang guru, belahan rok yang lumayan sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Tetapi saat dirinya tiba diruangan yang dituju, disana hanya didapatinya Bu Nita yang sibuk mengoreksi hasil ujian harian para siswa.

“Bu.. apa Pak Rivan telah pulang?”

“Mungkin telah,” jawab Bu Nita, memandang Reyna dengan wajah penuh curiga, setau Bu Nita hubungan antara Reyna serta Rivan terbukti tidak sempat akur, walau sama-sama guru muda, pemikiran Reyna serta Rivan rutin bersebrangan. Reyna yang idealis serta Rivan yang liberal.

“Terbuktinya ada apa Bu?” lanjut wanita itu, penasaran.
“Oh… tidak.. hanya ada butuh berbagai hal,” elak Reyna.
“Apa itu mengenai pengajuan kenaikan pangkat serta golongan?” tambah Nita yang justru terus penasaran.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” ujar Reyna bergegas pamit.

“Semoga saja SMS itu cuma canda,” ucapnya penuh harap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang menatap liar tubuh semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut tubuhnya.

Mobil Avanza, Reyna, membelah jalan pinggiran kota lebih cepat dari biasanya. Hatinya tetap belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Rivan, padahal lelaki itu hanya meminta tolong untuk menolongnya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.

Jantung Reyna terus berdebar saat mobilnya memasuki halaman rumah, di sana telah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu tentu motor Rivan,” bisik hati Reyna. Di kursi beranda aspek mata wanita muda itu meringkus sosok seorang lelaki, asik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” ujar Reyna dengan nada suara tidak suka.

Rivan membalas dengan tersenyum.

“Masuklah, tapi ingat suamiku tidak ada dirumah, sehingga seusai semua beres kalian bisa langsung pulang,” ujar Reyna ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.

Beraktifitas seharian disekolah memaksa Reyna untuk mandi, saat memilih baju, wanita itu dibangun bimbang wajib mengenakan baju semacam apa, apakah lumayan daster rumahan ataukah memilih pakaian yang lebih formal.

“Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dirinya merupakan musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Reyna, melempar gaun ditangannya ke tahap bawah lemari.

Lalu mengambil daster putih tanpa motif. Tapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu terlalu ketat serta berhasil mencetak liuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan bongkahan payudara yang menggantung menggoda.

Reyna kembali dibangun bimbang saat memilih penutup kepala, apakah dirinya tetap wajib mengenakan kain itu ataukah tidak, toh ini merupakan rumahnya. Tetapi tidak urung tangannya tetap mengambil kain putih dengan motif renda yang membikinnya terkesan terus anggun, tubuh indah dalam balutan serba putih yang menawan.

Jam dinding telah menunjukkan pukul 5 petang serta untuk yang kedua kalinya Reyna menyediakan teh untuk Rivan. Sementara lelaki itu tetap terkesan serius dengan laptop serta berkas-berkas yang wajib disiapkan, sesekali Reyna memberbagi arahan.

Tanpa sadar mata Reyna memantau wajah Rivan yang terbukti luar biasa. “Sebetulnya cowok ini rajin serta baik, tapi kenapa tidak jarang sekali sikapnya membikinku emosi,” gumam Reyna, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah.

Pemuda yang mempunyai selisih umur empat tahun lebih muda dari dirinya. Sikap keras Reyna sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Rivan yang kerap membela murid-murid yang melakukan pelanggaran disiplin.

“Tidak usah terburu-buru, minum dulu teh mu, lagipula diluar sedang hujan,” tegur Reyna yang berniat untuk bersikap lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku tentu menantikanku untuk makan malam,” umpat Rivan.

Reyna tertawa geli mendengar penuturan Rivan, “makan malam bersama ibumu? Tapi kalian tidak terkesan semacam seorang anak mami,” celetuk Reyna usil, membikin Rivan ikut tertawa, tetapi tangannya terus bergerak seakan tidak tergoda untuk meladeni ejekan Reyna.

“Bereeesss..” ujar Rivan tiba-tiba mengagetkan Reyna yang asik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apa aku wajib pulang sekarang?” tanya Rivan, wajahnya tersenyum kecut saat mendapati hujan diluar tetap terlalu lebat.

“Di garasi ada jas hujan, tapi bila kalian ingin menantikan hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Reyna yang yakin motor Rivan tidak mungkin menyimpan jas hujan.
“Aku memilih berteduh saja, sambil menemani bu guru cantik yang sedang kesepian, hehehe…”
“Sialan, sebentar lagi suamiku pulang lhoo,”

Sesaat seusai kata itu terucap, Blackberry ditangan Reyna menerima panggilan masuk dari suaminya, tapi sayangnya suaminya justru memberi berita bahwa dirinya sedikit telat untuk pulang, dengan wajah cemberut Reyna menutup panggilan.

“Ada apa, Rey..”
“Gara-gara kalian suamiku telat pulang,”

“Lhoo, kenapa gara-gara aku? Hahaha…” Rivan tertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Reyna melempar bantal sofa. Dialog kembali berlanjut, tetapi lebih tidak sedikit berkutat pada dinamika kenasiban disekolah serta faktor itu lumayan berhasil mencairkan suasana.

Reyna seakan menonton sosok Rivan yang lain, lebih supel, lebih akrab serta lebih humoris. Jauh tidak sama dari kacamatanya selagi ini yang menonton guru cowok itu layaknya perusuh bagi dirinya, sebagai penegak disiplin para siswa.

“Aku heran, kenapa kalian justru mendekati anak-anak semacam Junot serta Darko, kedua anak itu tidak lagi bisa diatur serta telah masuk dalam daftar merah guru BK,” tanya Reyna yang mulai terkesan santai. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, tentu anak itu telah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.

“Yaa, aku tau, tapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nongkrong di Mangga Besar hingga ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru juga ada lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu sangatlah lakukanan amoral,” Reyna hingga meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Rivan.

“Tapi tunggu, bukankah itu artinya kalian mendukung kenakalan mereka, serta siapa guru yang mereka intip?” tanya Reyna dengan was-was, takut dirinya menjadi korban kenakalan kedua siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas serta kreatif, bay
angkan saja, hanya dengan pipa ledeng serta cermin mereka bisa membikin periskop yang biasa dipakai oleh kapal selam,” ujar Rivan serius, memutar tubuhnya berhadapan dengan Reyna yang penasaran.

“Awalnya mereka cuma mengintip para siswi tapi bagiku itu tidak luar biasa, sebab itu aku mengundang mereka mengintip di toilet guru, apa kalian tau siapa yang kami intip?”

Wajah Reyna menegang, menggeleng dengan cepat. “Siapa?,,,”

“kami mengintip guru paling cantik disekolah, Bunda Reyna Raihani!”
“Apa? gilaaa kalian Van, tidak lebih ajar,” Reyna terkaget serta langsung menyerang Rivan dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebetulnya kalian ini guru alias bukan sih? Memberi contoh mesum ke murid-murid, besok aku bakal mengabarkan mu ke kepala sekolah,” sembur Reyna penuh emosi.

Rivan berusaha menahan serangan dengan mencekal lengan Reyna.

“Hahahaa, aku bohong koq, aku justru mengerjai mereka, aku tau yang sedang berada di toilet merupakan Pak Tigor serta apa kalian tau efeknya? Mereka langsung shock menonton batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Reyna akhirnya ikut tertawa, tanpa sadar apabila lengannya tetap digenggam oleh Rivan.

“Tu kan, kalian itu sebetulnya lebih cantik apabila sedang tertawa, sehingga jangan disembunyikan dibalik wajah galakmu,” ujar Rivan yang menikmati tawa renyah Reyna yang memamerkan gigi gingsulnya. Seketika Reyna terdiam, wajahnya terus malu saat menyadari tangan Rivan tetap menggenggam kedua tangannya.

Tapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar, “Hey!.. Kalo punya mata dijaga ya,” umpat Reyna dampak jelajah mata Rivan yang menyatroni gundukan payudara dibalik gaun ketat yang tidak tertutup oleh jilbab, Reyna beranjak serta duduk menjauh, merapikan jilbabnya.

“Punyamu besar juga ya,” balas Rivan, tidak peduli bakal peringatan Reyna yang menjadi terus kesal lalu kembali melempar bantalan sofa. “Ga usah sok kagum gitu, lagian kalian tentu telah tidak jarang mengintip payudara siswi disekolah?,,”

BACA JUGA  Cerita Seks Selingkuhi Istri Orang

“Tapi punyamu spesial, milik seorang guru tercantik disekolah,”

“Sialan..” dengus Reyna merapikan jilbabnya, tapi aspek bibirnya justru tersenyum, sebab tidak ada wanita yang tidak suka bila dipuji. Wajah Reyna memerah , kalimat Rivan begitu vulgar seakan itu merupakan faktor yang biasa.

“Rey… liat dong,”

“Heh? Kalian mau liat payudaraku , gilaa… Benda ini sepenuhnya menjadi hak milik suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa sifat Rivan yang cuek.
“Ayo dooong, penasaran banget nih,”
“Nanti, kalo aku masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Reyna tertawa terpingkal menutup wajahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Yaaa, paling ngga jangan ditutupin jilbab keq,” sungut Rivan, keqi atas ulah Reyna yang menertawakannya.
“Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ujar guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lalu mengikat jilbabnya kebelakang.
“Tidak lebih..”

“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seakan-akan sedang marah, tetapi jantungnya justru berdebar kencang, menantang hatinya sejauh mana keberanian dirinya.
“satu kancing aja,”
“Dasar guru mesum,” Reyna lagi-lagi memeletkan lidahnya lalu kembali menolehkan wajahnya ke TV, tetapi tangannya bergerak melepas kancing atas.

Tapi tidak berhenti hingga disitu, sebab tangannya terus bergerak melepas kancing kedua lalu menyibak kedua sisinya hingga terus terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu menjadi santapan penasaran mata Rivan. Entah apa yang membikin Reyna seberani itu, untuk pertama kalinya dengan sengaja menggoda lelaki lain dengan tubuh nya.

“Punyamu tentu lebih kencang dibanding milik Anita,” sambung Rivan, matanya terus terpaku ke dada Reyna sambil mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seolah menerawang seberapa besar daging empuk yang dimiliki wanita cantik itu. Tapi kata-kata Rivan justru membikin Reyna kaget, bimbang sekaligus penasaran. “Hhmmm.. Ada hubungan apa antara dirimu serta Bu Nita?”

“Tidak ada, aku hanya menemani wanita itu, menemani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”

“Maksudmu aku selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Rivan memotong kalimat Reyna seusai tau maksud kalimat yang susah diucapkan wanita itu. “Bisa dikatakan semacam itu, hehehe.. Tapi kami telah mengakhirinya tepat seminggu yang lalu,”

“Kenapa?” sambar Reyna yang tiba-tiba penasaran atas isu skandal yang terbukti telah menyebar dikalangan para guru mesum. Rivan menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya. “Suaminya curiga dengan hubungan kami, walau Anita menolak untuk mengakhiri aku tetap wajib mengambil keputusan itu, resikonya terlalu besar,”

“Apa kalian mencintai Bu Anita?”

Rivan tidak langsung menjawab tapi justru mengambil rokok dari kantongnya, seusai tiga jam lebih menahan diri untuk tidak menghisap lintingan tembakau dikantongnya, akhirnya lelaki itu meminta izin, “Boleh aku merokok?”

“Silahkan..” jawab Reyna cepat.

“Aku tidak tau pasti, Anita wanita yang cantik, tapi dirinya bukan wanita yang kuidamkan,” beber lelaki itu seusai menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tapi wajah wanita didepannya tetap menunjukkan rasa penasaran, “lalu apa saja yang telah terjadi antara dirimu serta Anita?” cecarnya.

“Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang telah kami lakukan?”

Wajah Reyna memerah sebab malu, Rivan dengan telak membongkar kekakuannya sebagai seorang wanita dewasa. “Anita merupakan wanita bersuami, artinya kau tidak berhak untuk menjamah tubuhnya,” ujar Reyna berusaha membela keluguan berfikirnya.

Rivan tersenyum kecut, mengakui kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, bahkan kami sempat melakukan diruang lab kimia, desah suaranya sebagai wanita yang kesepian sangatlah menggoda diriku, rindu pada saat-saat aku menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

Seketika wajah Reyna terasa panas membayangkan petualangan, Anita, “Kenapa kalian tidak menikah saja?” tanya Reyna berusaha menetralkan debar jantungnya. “Belum ada yang tepat,” jawab Rivan dengan ringkas, membikin Reyna menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu mengambil teh dimeja serta meminumnya.

“Rey.. selingkuhan sama aku yuk..”

Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Reyna seketika menghambur air teh dimulutnya.

“Dasar guru mesum,” umpat Reyna membuang wajahnya, yang menampilkan ekspresi tidak terbaca, kejendela yang tetap mempertontonkan rinai hujan yang justru turun terus deras.

“Aku masak dulu, lapar nih,” ujar Reyna, beranjak dari sofa berusaha menghindar dari tatapan Rivan yang begitu serius, jantungnya berdegub keras tetap tidak percaya dengan apa yang diucapkan Rivan.

“Rey…” Panggilan Rivan menghentikan langkah wanita itu.
“Kenapa wajahmu sehingga pucat begitu, tidak butuh takut aku cuma bercanda koq,” ujar lelaki itu sambil terkekeh.
“Siaaal, ni cowok berhasil mengerjai aku,” umpat hati Reyna.

“Aku tau koq, kalian tidak mungkin mempunyai nyali untuk menggoda guru super galak semacam aku,” ucapnya sambil memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum saat Rivan mengikuti ke dapur. Hatinya mencoba berapologi, setidaknya lelaki itu bisa menemaninya saat memasak.

Reyna dengan bangga memamerkan keahliannya sebagai seorang wanita, tangannya bergerak cepat menyiapkan serta memotong bumbu yang diperlukan, sementara Rivan duduk dikursi meja makan serta kembali berceloteh mengenai kenakalan serta kegenitan para siswi disekolah yang tidak jarang menggoda dirinya sebagai guru mesum jomblo tampan.

“Awas aja kalo kalian hingga berani menyentuh siswi disekolah,” Reyna mengingatkan Rivan sambil mengacungkan pisau ditangan, serta itu membikin Rivan tertawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Rivan mengkomentari kecepatan tangan Reyna saat memotong bawang bombay.
“Hahaha… ayo sini aku ajarin..” tawar Reyna tanpa menghentikan aksinya.

Tapi Reyna terkejut ketika Rivan memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, sebab tangannya mengambil alih pisau serta bawang yang ada ditangannya. “Ajari aku ya..” bisik Rivan lembut tepat ditelinganya.

Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya terkesan ragu saat menyentuh serta menggenggam tangan Rivan yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan pisau bergerak membelah daging bawang.

“tangan mu terlalu kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku terbukti tidak terlatih melakukan ini, tapi sangat terlatih untuk pekerjaan lainnya.”
“Oh ya? Contohnya semacam apa? Membikin periskop untuk mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

“Bukan, tapi tanganku sangat terampil untuk memanjakan wanita cantik semacam mu,” ujar lelaki itu, melepaskan pisau serta bawang, beralih mengusap perut Reyna yang datar serta perlahan merambat menuju payudara yang membusung.

“Hahaha, tidaak tidaaak, aku bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Reyna berusaha menahan tangan Rivan.
“Rey, apabila begitu jadilah kawan yang mesra untuk diriku, serta biarkan kawanmu ini sesaat mengangumi tubuhmu, bila tanganku terlalu nakal kalian bisa menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

Tubuh Reyna gemetar, lalu mengangguk dengan pelan, “Ya, Deaaal.” ujar bibir tipisnya, serak. Reyna kembali meraih pisau serta bawang serta membiarkan tangan kekar Rivan dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya dengan cara utuh. Memberbagi remasan yang lembut, memainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.

Mata Reyna terpejam, kepalanya terangkat seiring cumbuan Rivan yang perlahan merangsek keleher yang tetap terbalut jilbab. Romansa yang ditawarkan Rivan dengan cepat mengambil alih kewarasan Reyna.

“Owwhhhh,” bibir Reyna mendesah, kakinya seakan kehilangan tenaga saat jari-jari Rivan berhasil menemukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” ujar wanita itu sesaat sebelum bibirnya menyambut lumatan bibir yang panas.

Membiarkan lelaki itu menikmati serta bercanda dengan lidahnya, menari serta membelit lidahnya yang tetap berusaha menghindar. “Eeeemmhhh…” wajahnya terkaget, Rivan dalam hisapan yang lembut membikin lidah nya berpindah masuk menjelajah mulut lelaki itu serta merasakan kehangatan yang ditawarkan.

Menggelinjang saat lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Apabila Reyna mengira permainan ini sebatas permainan pertautan lidah, maka wanita itu salah besar, sebab jemari dari lelaki yang saat ini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

“Boleh?”

Wanita berbalut jilbab itu tidak berani menjawab, hanya memejamkan matanya serta menantikan keberanian silelaki untuk menikmati tubuhnya. Begitu pun saat tangan Rivan berusaha hebat keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.

BACA JUGA  Cerita Seks Bocah ABG

“Oooowwwhh, eemmppphhh,” tubuh Reyna mengejang seketika, tangan lentiknya tidak sanggup mengusir tangan Rivan, hanya mencengkram supaya jemari lelaki itu tidak bergerak terlalu lincah memelintir puting mungilnya.

“Rey.. Kenapa kalian bisa sepasrah ini?.. Benarkah kalian menyukai lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan sekedar perkawanan Rey.. Walau kau tidak menyadari aku bisa merasakan bibit rasa suka dihatimu bakal lelaki itu, Rey…” hati kecil Reyna mencoba menyadarkan. Tapi wanita itu justru berusaha memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berusaha mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.

Wajahnya mendongak ke langit rumah, berusaha lari dari batinnya yang berteriak memberi peringatan. Pasrah menantikan dengan hati berdebar saat tangan Rivan mulai membawa dasternya keatas serta dengan tentu menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kelubang kemaluan yang mulai basah.

“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berusaha membuka kaki lebih lebar seakan membebaskan jari-jari Rivan bermain dengan klitorisnya.

Kurihiiiing…
Kurihiiiing…

Dering HP mengagetkan keduanya, membikin pergumulan birahi itu terlepas. Kesadaran Reyna mengambil alih seketika, dirinya terus shock menonton nama yang tertera dilayar HP, ‘Mas Anggara’.

“Hallo mas, halloo,,” sambut Reyna diantara usahanya mengkeadaankan jantung yang berdegup kencang.
“Mas sedang dimana, kenapa belum pulang?” ujar Reyna kalut dengan rasa takut serta bersalah yang begitu besar, seolah suaminya saat ini berdiri tepat didepannya.
“Mas tetap dirumah sakit, mungkin tidak bisa pulang malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”

Seusai mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Reyna berdiri bersandar dimeja, menghela nafas panjang lalu meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.

“Rivan, terimakasih untuk semuanya, tapi kau bisa pulang sekarang,”
“Tidak Rey, kami wajib menyelesaikan apa yang telah kami mulai,”

“Apa maksudmu?… Tidak.. Aku bukan semacam Anita yang kesepian, aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki saat ini merupakan keluarga yang terbukti kuidamkan…” wajah Reyna menjadi pucat saat Rivan mendekat menempel ketubuhnya, membawa dasternya lebih tinggi, memeluk serta meremas pantat yang padat berisi.

“Rivan, ingat!.. Kalian seorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya tubuh lelaki itu, tapi dekapan tangan Rivan terlalu erat.
“Yaa.. Aku terbukti bukan pemerkosa, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah kami mulai,”
“Gila kalian Rivan, aku merupakan istri yang setia, tidak semacam wanita-wanita yang sempat kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Rivan tersenyum sambil menurunkan celananya serta memamerkan batang yang telah mengeras, batang besar yang membikin Reyna terhenyak.

Tiba-tiba dengan kasar Rivan mencengkram tubuh Reyna serta mendudukkan wanita itu diatas meja, dengan gerakan yang cepat menyibak celana dalam Reyna, batang besar itu telah berada didepan bibir senggama Reyna.

“Jangan Rivaaan, aku bisa berbuat nekat,” Reyna mulai menangis ketakutan, meraih garpu yang ada disampingnya, mengancam Rivan.
“Kenapa mengambil garpu, bukankah disitu ada pisau?” Rivan terkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan saat ini berubah begitu menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Rivan berteriak kesakitan saat Reyna menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

Lelaki itu menepis tangan Reyna, merebut garpu serta melemparnya jauh, darah terkesan merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin mengakhiri ini sewajibnya kau tusuk tepat di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menyeringai sekaligus menahan sakit.

“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Reyna berhasil bentrok mendorong tubuh besar Rivan lalu berlari kearah kamar, tapi belum sempat wanita itu menutup kamar Rivan menahan dengan tangannya.

“Aaaaagghh…” Rivan mengerang kesakitan dampak tangannya yang terjepit daun pintu, lalu dengan kasar mendorong hingga membikin Reyna terjengkal.
“Dengar Rey.. Telah lama aku menyukai mu, serta aku berusaha hebat perhatianmu dengan menentang setiap kebijakan mu,”

Dengan kasar Rivan mendorong wanita itu kelantai serta melucuti pakaiannya, Reyna berteriak meminta tolong sembari mempertahankan kain yang tersisa, tapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi tubuh Reyna yang terbaring tidak berdaya, memamerkan batang besar yang mengeras sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari milik suaminya.

Wanita itu menangis saat Rivan dengan kasar menepis tangan yang tetap berusaha menutupi selangkangan yang tidak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Lumayan Rivan, sadarlaaah..” sambil terus menangis Reyna berusaha menyadarkan, tapi usahanya sia-sia, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang terawat rapi.

Dengan kekuatan yang tersisa Reyna berusaha merapatkan kedua pahanya, tetapi telat, Rivan telah lebih dulu menempatkan tubuhnya diantara paha sekal itu serta bersiap menghujamkan kejantanannya untuk membekas suguhan nikmat dari wanita secantik Reyna.

“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit dibanding milik Anita,” desah Rivan seiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.

“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Reyna mengerang menerima hujaman yang dilakukan dengan kasar, terus keras batang besar itu menghujam terus kuat pula jari-jari Reyna mencakar tangan Rivan, air matanya tidak henti mengalir.

Tubuhnya terhentak bergerak tidak beraturan, Rivan menyetubuhinya dengan sangat kasar. Wajah lelaki itu menyeringai saat melipat kedua paha Reyna keatas, memberi suguhan indah dari batang besar yang bergerak cepat menghujam lubang sempit vagina Reyna.

“Sayang, aku bisa merasakan lorong vaginamu terus basah, nyatanya kalian juga menikmati pemerkosaan ini, hehehe”

Plak…

Pertanyaan Rivan berbuntut tamparan dari tangan Reyna, tapi lelaki itu justru tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Reyna yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Reyna, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang tetap tersisa.

“Ckckckck… Sempurna, sejak dulu aku telah yakin payudaramu lebih kencang dari milik Anita,”

Tubuh Reyna melengkung saat putingnya dihisap lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”

“Pasti Anita malam ini insomnia sebab menantikan batang kejantanan yang saat ini sedang kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan tubuh serta nikmatnya vaginamu sangatlah membikinku lupa pada beringasnya permainan Anita,” ujar Rivan, membikin Reyna kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

“Bajingan kamu, Van..” umpat wanita itu, tapi tidak berselang lama bibirnya justru mendesah saat lidah Rivan bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, apabila kalian juga menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”

Mata wanita itu terpejam, air matanya tetap mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, susah terbukti memungkiri kenikmatan yang tengah dirasakan seluruh inderanya.

“Reeeey… Sadarlah, kalian wanita baik-baik, seorang istri yang setia, setidaknya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya mencoba mengingatkan, membikin airmata Reyna terus deras mengalir.

Yaa.. walau hatinya berontak, tapi tubuhnya telah berkhianat, pinggulnya tanpa diminta bergerak menyambut hentakan batang yang menggedor dinding rahim. Rivan tersenyum penuh kemenangan.

“Berbaliklah, sayang,” pintanya.

Tubuh Reyna bergerak lemah membelakangi Rivan, pasrah saat lelaki itu hebat pantatnya menungging lebih tinggi, memperkenalkan kenikmatan dari liang senggama yang terus basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei saat lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat terus tinggi ketika lidah yang panas memberbagi sapuan panjang dari bibir vagina hingga keliang anal.

Rasa takut serta birahi tidak lagi sanggup dikenali, matanya yang sendu mencoba mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati permainan lidah yang lincah menari, menggelitik liang vagina serta anusnya, sebuahsensasi kenikmatan yang tidak sempat diberbagi oleh suaminya.

Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang bentrok tetapi tubuhnya tidak sanggup berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun saat batang besar Rivan kembali memasuki tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

BACA JUGA  Cerita Seks Gadis Kantoran Cantik

Begitupun saat Rivan meminta Reyna untuk menaiki tubuhnya, walau airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tapi pinggul wanita itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.

“Aaaawwhhhh Rey… Boleh aku menghamilimu?” ujar Rivan saat posisinya kembali berada diatas tubuh Reyna, menunggangi tubuh indah yang baru saja meregang orgasme.

Wanita itu membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat tidak berani menjawab hanya gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu takut beradu pandang dengan mata Rivan yang penuh birahi.

Batang besar Rivan bergerak cepat, orgasme yang diraih siwanita membikin lorong senggamanya menjadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu cepat serta kuat seakan ingin membobol dinding rahim, memaksa Reyna berpegangan pada logam ranjang penikahannya untuk meredam kenikmatan yang didustakan.

“Reeeeey.. Boleh aku menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Rivan yang menggerakkan pinggulnya terus cepat.

Reyna menatap Rivan dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Rivan tersenyum menyeringai “Kamu yakin? Tidak ingin merasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lain menghambur dirahim mu?”

Plaaak..

Reyna kembali menampar wajah Rivan untuk yang kesekian kalinya, tapi hari ini jauh lebih keras. Wanita menjerit terisak, tapi kaki jenjangnya justru bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seakan ingin menyatukan dua tubuh.

Tangis Reyna terus menjadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Rivan yang berkeringat lalu meremas pantat yang berotot seakan mendukung gerakan Rivan yang menghentak batang terus dalam.

“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Reyna seiring lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.

Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwanita yang membawa pinggulnya menyambut kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, tubuh keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari sebuah senggama tabu.

“Kenapa kau mempermainkan aku semacam ini,” isak Reyna dengan nafas memburu, tangannya tetap meremasi pantat berotot Rivan yang sesekali mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.

“Sebab aku mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membikin pelukannya terus erat, membiarkan tubuh besar itu berlama-lama diatas tubuh indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran masing-masing.

“Apa kalian bersedia menjadi kawan selingkuhku?”

Reyna menggeleng dengan cepat, “Aku tidak berani, Rivan, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepaskan pagutan kakinya serta mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya serta memamerkan kehebatan kejantanannya dilubang sempit vagina Reyna.

“Tapi bagaimana bila aku memaksa?..”

“Itu tidak mungkin Oooowwhhh… Aku telah bersuami serta mempunyai anak, aaaahhhhhh…” Reyna menggelengkan kepala, berusaha kukuh atas pendirian, walau pinggul indahnya bergerak liar, tidak lagi malu untuk menyambut setiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam tubuhnya.

Reyna tidak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Rivan saat bibir lelaki itu kembali berusaha merayu, membekap wajah Rivan pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.

“Kamu jahat, Van.. Tidak sewajibnya aku membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

Seusainya tidak ada lagi kalimat lagi yang keluar tidak hanya desahan serta lenguhan serta deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya bibir Rivan bersuara serak terbuktigil nama si wanita.

“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

Reyna menatap sendu wajah birahi Rivan, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lalu merentang kedua tangan serta kakinya, memberi izin terhadap silelaki untuk kembali menghambur sperma kedalam rahimnya.

“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membikin siwanita bingung, sementara tubuhnya telah pasrah menjadi pelampiasan dari puncak birahi Rivan.

Dengan wajah memelas tangan Rivan bergerak mengusap wajah Reyna, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.

“Dasar guru mesum, ” ujar Reyna sambil menampar pipi Rivan tapi hari ini dengan lembut,
“kamu menang tidak sedikit hari ini, Van..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”

Reyna memalingkan wajahnya, lalu mengangguk ragu. Rivan bangkit mencabut batangnya lalu mengangkangi wajah guru cantik itu. Aspek mata Reyna meringkus wajah tampan silelaki yang menggeram sambil memainkan batang besar tepat didepan wajah nya.

Jemari lentiknya gemetar saat mengambil alih batang besar itu dari tangan Rivan. Memberanikan diri untuk menatap lelaki yang mengangkangi wajahnya, kepasrahan wajah seorang wanita atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas tubuhnya.

“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Rivan memucat seiring sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyambut dengan mata menatap sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

Tak sempat sekalipun Reyna menyaksikan seorang pejantan yang begitu histeris memperoleh orgasmenya, serta tidak sempat sekalipun Reyna membiarkan seorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan ragu Reyna membuka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut saat jari lentik Reyna yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.

Menikmati keterkejutan wajah Rivan atas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghisap batang Rivan, mempersilahkan lelaki itu mengosongkan benih birahi didalam bibir tipisnya.

“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Rivan mengejat, menyambut tawaran Reyna dengan berbagai semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Aku tidak ingin suamiku datang serta mendapati dirimu tetap disini,” pinta Reyna seusai Rivan telah mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
“Masih belum puas?.. dasar guru mesum,” ucapnya ketus saat Rivan memeluk dari belakang.
“aku bukanlah selingkuhan mu, catat itu,” Reyna menepis tangan Rivan.

“Yaa.. Aku bakal mencatatnya disini, disini, serta disini..” jawab Rivan sambil menunjuk bibir tipis Reyna, lalu beralih meremas payudara yang membusung serta beres dengan remasan digundukan vagina.

“Dasar gila ni cowok,” umpat hati Reyna, yang kesal atas ulah Rivan tetap terkesan cuek seusai apa yang terjadi.

Reyna menatap punggung Rivan saat lelaki itu melangkah keluar, hujan tetap mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti serta membalikkan tubuhnya, menampilkan wajah serius.

“Maaf Rey, sungguh ini diluar dugaanku, semua tidak lepas dari khayalku bakal dirimu, tapi aku terbukti salah sebab mencintai wanita bersuami, Love you Rey..” ujar Rivan lalu melangkah keluar kepelukan hujan.

“Rivaaan.. Love u too,” teriak Reyna dengan suara serak, membikin langkah Rivan terhenti
“Tapi maaf aku tidak bisa sehingga selingkuhanmu.” lanjutnya.

“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seorang bocah dengan ceria, coba mengagetkan wanita yang sibuk merapikan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuh Reyna, ibunya.

Usaha gadis itu lumayan berhasil, Reyna sama sekali tidak menduga, Ermina, putri kecilnya yang kemarin hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

“Ini buat mami dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berbentuk amor yang melayang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Semoga mami terus cantik serta sehat rutin..”

Wajah mungil itu tersenyum ceria, senyum yang begitu tulus bakal kerinduan sosok seorang ibu. Reyna tidak lagi sanggup membendung air mata, menatap mata bening tanpa dosa yang menunjukkan kasih sayang seorang anak. Sementara dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sambil menggenggam balon yang sama.

“Selamat valentine, sayang,” ujar Anggara, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang justru mencabik-cabik hati Reyna.

Seketika segala sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya sebagai seorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seorang ibu.

“Maafin Mama, sayang,” ujar Reyna tanpa suara, memeluk erat tubuh mungil Ermina, terisak dengan tubuh gemetar. “Maafin mama, Pah,”

Tengah malam, Reyna berdiri dibalik jendela, menatap gulita dengan gundah. Suaminya serta Ermina telah terlelap.

PING!…

Tanpa hasrat wanita itu membuka BBM yang nyatanya menampilkan pesan dari Rivan.

“Besok pukul 12 aku tunggu di lab kimia, ”

Jemari kiri Reyna erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sementara tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, aku bakal kesitu,”

author
No Response

Comments are closed.