Judi Bola

Cerita Seks Bocah ABG

462 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Marwah baru berumur 29 tahun, tapi telah menjanda Suaminya mati dalam suatu kecelakaan bus, meninggalkannya sendirian dengan tiga orang anak yang tetap kecil-kecil Nasibnya sehingga susah, sebab itulah ia pulang ke desa untuk nasib bersama kedua orang tuanya

Menjadi seorang janda bukan berarti telah tidak mengharapkan sex lagi Itu salah Buktinya, Marwah tetap saja mengharapkannya, apalagi telah lama ia tidak memperolehnya Memeknya sehingga gatal, tapi ia wajib sekuat tenaga menahannya Sebagai seorang wanita yang baik, ia tidak boleh terlalu vulgar mengumbar nafsu birahi nya

Di desa, Marwah merawat ayam Dirinya juga memiliki suatu kolam ikan peninggalan almarhum suaminya dan beberepa petak sawah dan sedikit ladang kering Sehari-hari ia sibuk mengurusnya, lumayan untuk sedikit mengalihkan perhatiannya

Sehari-hari, ia bersahabat dengan seorang anak pengangon kambing yang sesekali suka mengusilinya Namanya Adi, usianya baru 17 tahun Tidak hanya usil, Adi juga suka bicara seenaknya Mulanya Marwah risih juga mendengar perkataannya yang tidak senonoh itu

Tapi seusai memperhatikan, nyatanya anak itu hanya mengatakan jorok bila mereka berdua saja, dan semua kata-katanya tidak hingga terdengar keluar Hanya mereka berdua yang tahu Itu membikin Marwah yakin kalau Adi merupakan anak yang pintar menjaga rahasia

Sampai akhirnya, terjadilah momen itu…

Hari telah beranjak sore ketika Marwah berniat untuk mandi Itu merupakan rutinitasnya seperti biasa, tapi entah mengapa, sore itu ia merasa tidak enak hati, seperti ada yang membikinnya deg-degan Perasaannya sehingga tidak menentu, naluri kewanitaannya mengatakan bakal ada sesuatu yang terjadi Entah itu baik ataupun kurang baik

Dan benar saja, saat mau menyirami tubuh telanjangnya yang telah disabuni, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sepasang mata yang mengintip penasaran dari balik dinding gedek Seperti umumnya kamar mandi di desa, kamar mandi Marwah juga cuma ditutup gedeg atau aenjoy bambu sebagai sekatnya Siapapun yang berniat mengintip bakal dengan mudah menonton dari lubang dinding bambu Dan sore ini, Adi melakukannya Ya, Marwah sangat hafal sekali, itu merupakan sepasang mata milik si bocah

”Adi, ngapain kamu?!” tanya Marwah dari dalam

“Ya, ini aku, Budhe…” jawab Adi enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun Ia malah tersenyum lebar sebab telah sukses mengintip tubuh montok Marwah yang sehari-hari tertutup jubah panjang dan jilbab lebar Terbukti, tidak semua orang bisa seberuntung dirinya saat ini

Dalam hati, Marwah membatin, ”Nakal sekali anak ini, wajib aku kasih pelajaran!” Dan pelajaran yang tepat untuk anak seperti Adi merupakan… Marwah bakal membiarkan bocah kecil itu terus mengintip tubuhnya! Rasain, biar saja dirinya sehingga puyeng sebab menonton seluruh tubuhnya Marwah tidak peduli Salah sendiri sehingga anak kok nakal banget

Pura-pura tidak terjadi apa-apa, Marwah meneruskan agenda mandinya Sambil mengguyur tubuh montoknya yang tetap penuh busa sabun, ia sedikit meliuk-liukkan tubuhnya, memamerkan bokong dan tetek besar nya yang bulat montok pada Adi Tersenyum dalam hati, Marwah memperhatikan alangkah Adi terdiam dan terkagum-kagum memandanginya Bocah itu melotot dengan air liur hampir menetes keluar

Jangankan Adi yang baru beranjak gede, orang-orang di pasar saja suka usil bila menonton Marwah Mereka suka mencolek dan menggodanya kala Marwah menjual telur bebek ke salah satu kios langganannya Dengan kemolekan tubuhnya, Marwah dengan cepat menjadi idola para pedagang telur di pasar inpres

Tapi untunglah, dengan dandanannya yang alim dan sopan, hingga saat ini belum ada yang berani berbuat macam-macam terhadap dirinya Dan Marwah berharap, semoga selamanya juga tidak ada Dirinya ingin menjalani nasibnya di desa ini dengan tenang Marwah tidak ingin mencari persoalan

Seusai tubuhnya bersih, Marwah mengambil handuk yang ada di cantolan baju Pelan dirinya mengusap sisa-sisa air yang tetap menempel di tubuh montoknya Diperhatikannya Adi yang tetap tetap setia mengintip dari lubang dinding Marwah tersenyum, ia berniat untuk unjuk diri sekali lagi

Entah kenapa, menghadapi Adi yang usil, segi liar Marwah sehingga bergejolak seperti ini Padahal biasanya ia lumayan teliti menjaga aurat, buktinya ia rutin mengenakan baju panjang dan jilbab kalau keluar rumah Marwah tidak ingin ada yang menikmati lekuk tubuh montoknya dengan cara gratis

Menghadap persis ke arah Adi, Marwah mulai beraksi Sedikit membusungkan dada, ia mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya berulang kali, membikin benda yang tetap kelihatan padat meski telah dipakai menyusui 3 orang bayi itu terus terkesan indah Marwah juga memilin-milin putingnya yang mungil kecoklatan, yang kelihatan sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus

Tak berhenti hingga di situ, tangan Marwah turun ke bawah dan mulai mengusap-usap bibir vaginanya Dirinya mencolokkan dua jarinya ke dalam dan mulai mengocoknya dengan begitu lembut Di luar, Adi menegang dan terpana saat menonton Marwah yang mulai bermasturbasi di depan matanya

Adegan itu terus berjalan selagi berbagai menit hingga akhirnya Marwah menjerit keenakan tidak lama kemudian Dari memeknya memancar air bening yang amat deras Adi tidak berkedip memandanginya, bahkan ia terkesan terus menempelkan matanya di dinding kamar mandi supaya bisa menonton lebih jelas lagi

Terengah-engah penuh kepuasan, Marwah mengguyur tubuhnya Ia mandi sekali lagi Dilihatnya Adi tetap setia mengintip apapun yang ia lakukan Marwah segera menegurnya ”Telah, Di. Telah tidak ada yang bisa dilihat ” katanya begitu agenda mandi sore itu beres

Tidak mendengar jawaban, Marwah menebak kalau Adi telah berangkat Hari telah mulai gelap hingga ia tidak bisa menonton ke antara lubang dinding kamar mandi Marwah segera mengenakan baju panjangnya kembali dan berjalan keluar menuju rumah

***

Hari tetap pagi ketika Marwah berangkat ke sawah untuk menonton bebek-bebeknya Saat itu dirinya membawa berbagai buah singkong goreng sebagai bekal Seusai memastikan bebeknya tidak ada yang hilang dan beres memberi makan mereka, Marwah berangkat ke gubuk di tengah sawah untuk beristirahat

Saat sedang asyik memakan bekalnya, dilihatnya Adi datang mendekat ”Hmm, mau apa bocah nakal itu sekarang?” batin Marwah dalam hati Dilihat dari cengirannya yang usil, sepertinya Adi tidak merasa bersalah dengan momen kemarin

”Pagi, Budhe… habis ngasih makan bebek ya?” tanyanya

”Iya,” Marwah mengangguk ”Mana kambingmu?” ia bertanya Tidak biasanya Adi berangkat sendirian ke sawah tanpa dibuntuti kambing-kambingnya

”Telah dibawa bapak ke bukit sana,” Adi menunjuk bukit kecil yang ada di sebelah kiri mereka

”Kemarin kalian mengintip Budhe ya, kenapa?” tanya Marwah saat Adi telah duduk di sebelahnya

”Adi suka nglihat tetek besar Budhe yang gede,” jawab Adi enteng

Marwah memperhatikan tetek besar nya Terbukti benar, meski tertutup baju panjang dan jilbab lebar, benda itu terkesan sangat bulat dan menggiurkan Anak sekecil Adi aja tahu kalau tetek besar Marwah begitu montok dan besar Bocah itu tidak salah ”Selain tetek besar Budhe, kalian mau lihat apa lagi?” pancing Marwah, entah kenapa dirinya sehingga bertanya seperti ini

“Ya… apalagi kalau bukan tempeknya Budhe,” kata Adi seenaknya Yang dimaksud dengan tempek merupakan kemaluan wanita, atau vagina

“Kamu tetap kecil, tapi telah gatal,” Marwah nyeletuk Meski tahu kalau Adi sedikit nakal, dirinya tetap sayang terhadap bocah itu sebab Adi suka menolongnya kalau Marwah lagi sibuk di sawah sendirian Semua penduduk desa tahu kalau mereka sangat dekat dan bersahabat Tapi tidak seorang yang tahu kalau Adi suka ngomong jorok dan seenaknya

”Tempek Budhe kemarin gatal ya, kok sampe digaruk segala?” tanya Adi mengenai masturbasi Marwah

Marwah tersenyum lebar, ”Bukan gatal, Budhe cuma pengen kencing aja ” dirinya mengarang alasan

”Perasaan, kalau ibuku kencing nggak hingga seperti itu deh,” sahut Adi

”Kamu sempat menonton ibumu kencing?” tanya Marwah tidak percaya, sangatlah telah kelewatan bocah satu ini

”Nggak ngeliat langsung, cuman nggak sengaja saat bunda jongkok di kebun belakang ” jelas Adi

”Dasar kalian ya,” Marwah memberantakan rambut bocah itu ”Eh, kalau ngintip ibumu mandi, sempat nggak?” tanya Marwah, tiba-tiba saja terlintas pikiran itu di otaknya yang tertutup jilbab

Adi mengangguk ”Iya, sempat ”

“Gimana tetek ibumu, gede kan?” tanya Marwah penasaran Dirinya terbukti sempat sekali menonton bunda Adi sedang mandi di sungai, dan menurutnya tubuh perempuan itu lumayan hebat juga meski wajahnya tidak cantik-cantik amat

Adi terdiam membayangkan, ”Lumayan sih, tapi tetep lebih gede punya Budhe,” jawabnya sesaat kemudian

Marwah tertawa mendengarnya ”Itu sebab usia ibumu telah tua, sehingga teteknya kendor Coba kalau seusia Budhe, pasti ukurannya bakal sama ”

Adi menggeleng, ”Nggak, tetap lebih keren punya tetek besar Budhe ”

Marwah tertawa lagi “Trus, emang kenapa kalau lebih keren punya Budhe? Kalian mau ngapain?” tantangnya

Adi tersipu malu, ”Ya nggak apa-apa sih Adi cuma pingin pegang tetek besar, pingin hisap, pingin remas-remas!” kata bocah itu sekenanya

“Ah, kalian ini… dasar anak kecil!” Marwah kembali memberantakan rambut gondrong Adi

“Kecil apanya? Nih Budhe lihat!” tanpa disangka oleh Marwah, Adi tiba-tiba berdiri dan memelorotkan celananya

BACA JUGA  Cerita Seks Dengan Tante Semalaman

”Adi!” pekik Marwah saat menonton kontol Adi yang telah ngaceng keras Meski bulunya tetap sangat sedikit, tapi benda itu tampak begitu mempesona Bagi seorang wanita yang haus bakal sentuhan seperti Marwah, menonton kontol tepat di depan matanya seperti sekarang, tidak urung dengan cepat membikin darahnya berdesir ”Gila Anak umur tujuh belas tahun, tapi kontolnya telah mirip orang dewasa,” batin Marwah dalam hati

“Gimana, besar kan, Budhe?” tanya Adi bangga sambil terus memamerkan penisnya

“Ya, lumayan juga ” Marwah tidak mampu memalingkan mukanya dari benda coklat panjang itu

”Kok cuma lumayan, ini kan telah gede banget ” protes Adi tidak terima

”Terbukti gede sih, tapi kan belum sempat dipakai Mana bisa tahu kuat apa nggak?” pancing Marwah lebih nakal lagi

“Dipakai buat ngentot ya, Budhe?” tanya Adi polos

Marwah mengangguk mengiyakan ”Iya, kalian telah sempat ngentot belum? Aku yakin belum!” yakin Marwah

Adi tersipu malu, “Aku kepingin ngentot, Budhe, tapi bagaimana?” tanyanya bingung

”Bukan bagaimana, tapi sama siapa! Kalau soal tutorial ngentot sih, Budhe bisa ngajarin ” tawar Marwah

Adi langsung menyeringai lebar mendengarnya, ”Ya betul! Kenapa nggak sama Budhe aja?” kata Adi ceplas-ceplos

“Gila kamu! Ngajarin kan bisa lewat tulisan atau cerita, nggak butuh wajib ngentot langsung ” kilah Marwah

“Ayolah, Budhe Masak cuma lewat tulisan, nggak seru dong!” kata Adi

Marwah diam tidak menjawab Dirinya tampak berpikir keras Sebagai seorang wanita berjilbab, ia tidak boleh melakukannya Tapi di segi lain, hati kecilnya tidak bisa dibohongi Pembicaraan ini telah memancing nafsu birahi nya Ditambah dengan kontol Adi yang besar, yang terus tersaji indah di depannya, membikin Marwah sehingga sangat kesusahan untuk menentukan sikap

Bebek-bebek terus bersuara di kurang lebih mereka, terkadang berenang kian kemari di air sawah yang baru saja dipanen Binatang berkaki selaput itu berebutan memakan biji padi yang tetap tidak sedikit berserakan disana Sisanya yang tidak kebagian mencocorkan paruhnya ke pematang sawah, berharap mendapat cacing atau siput yang sedang sial

“Boleh ya, Budhe?” Adi mendesak terus berani

Marwah menghela nafas Ia memandangi bocah kecil itu dan tersenyum, “Benar kalian mau tahu?” tanyanya penasaran dengan performa Adi

“Iya, Budhe Aku pengen sekali ngentot Apalagi dengan orang secantik Budhe, aku pingin sekali!!” seru Adi penuh semangat

“Tapi kalian tidak boleh bercerita terhadap siapapun juga Sumpah?” kata Marwah serius
“Sumpah, Budhe Aku nggak bakal cerita sama siapapun ” Adi menganggukkan kepalanya

Marwah tersenyum dan kembali memberantakan rambut gondrong Adi ”Sebentar ya,” dirinya menonton sekeliling, memastikan kalau mereka aman Gubuk itu berbentuk terbuka, dengan aenjoy bambu yang menutupi hingga sebatas pundak Kalau mereka duduk, dari kejauhan, hanya kepala mereka yang terkesan Marwah menyadari faktor ini dan tersenyum Mereka bisa melakukannya!

Situasi juga sangat memungkinkan Hari yang tetap pagi membikin para petani sibuk di sawah masing-masing Tidak bakal ada yang menonton ke arah gubuk, atau bahkan mendatangi tempat dimana Adi dan Marwah sedang berada kini Ditambah suara ratusan bebek yang berkuek-kuek nyaring, itu bisa menyamarkan dengan baik suara desahan mereka saat ngentot kelak ”Sempurna!” Marwah membatin dalam hati Dirinya kemudian berpaling kembali pada Adi

“Kamu telentang di sini dan tetap pakai bajumu Kalau ada orang lewat, kalian cepat menaikkan kembali celanamu!” kata Marwah memberi instruksi

Adi segera mengikuti apa yang dianjurkan oleh perempuan cantik itu Dirinya tidur telentang dan celana melorot hingga sebatas paha, menunjukan burung besarnya yang mendongak gagah mencari mangsa Marwah mengelus-elus burung Adi sebentar hingga benda itu menjadi sangatlah keras Gila, nyatanya kontol itu bisa membengkak hingga dua kali lipat, ukurannya juga menjadi sedikit lebih panjang Marwah hingga geleng-geleng kepala dibuatnya

”Baru umur segini telah begini gede, gimana kalau telah besar nanti?” Marwah membatin dalam hati, menyadari potensi pada diri Adi sebagai pria perkasa

Tak tahan, Marwah segera membawa baju panjangnya ke atas, ia menyingkapnya hingga ke pinggang Dibiarkannya Adi mengelus-elus kulit pahanya yang putih mulus sebentar ”Kamu suka, Di?” tanyanya sambil melepaskan celana dalam Dengan nakal dipamerkannya lubang memeknya yang sempit pada bocah kecil itu

”S-suka… suka banget, Budhe!” sahut Adi dengan mata nanar menatap gundukan memek Marwah yang tersaji indah di depan hidungnya Dengan tangan gemetar ia mulai mengusap-usap dan memijitinya

”Isap, Di,” kata Marwah sambil menggeser sedikit tubuhnya, ia menaruh belahan memeknya tepat di depan mulut si bocah kecil

Adi dengan penasaran segera menjulurkan lidahnya Rasa memek Marwah yang segar dan harum membikinnya suka, iapun menjilat dan menghisap benda itu dengan begitu rakus Adi bahkan hingga membenamkan muka ke dalam lubangnya Ia bernafas disana

Marwah yang menerimanya sehingga kelojotan tidak karuan Telah lama ia tidak merasakan nafsu birahi yang seperti ini, dan begitu memperolehnya, nyatanya Adi begitu pintar Gerakan lidahnya bagaikan orang yang telah berpengalaman bertahun-tahun, padahal Marwah tahu, ini juga saat pertama Adi

”Ahh Terus, Di Yah, disitu… isep yang mungil itu Itu namanya itil, Di Enak banget kalau diisep! Oughhh!” Marwah merintih tidak karuan Tangannya menggapai-gapai untuk mencari pegangan supaya tidak hingga roboh sebab saking nikmatnya Tapi yang ia temukan malah kontol besar Adi Tidak apalah, daripada tidak ada sama sekali Marwah segera memeganginya dan mulai mengocoknya pelan

Adi yang mendapat suntikan rangsangan dari Marwah, melenguh pelan dan mulai menjilat terus keras kini bukan lidahnya saja yang bekerja, tapi juga tangannya Adi menyusupkan tangannya ke balik baju terusan Marwah dan menyelipkannya di balik BH perempuan cantik itu Diremas-remas tetek besar Marwah yang menggantung indah, yang selagi ini rutin menjadi obsesinya dengan penuh nafsu

Ugh, benda itu terasa begitu empuk dan kenyal Ukurannya yang sangat besar membikin tangan mungil Adi tidak bisa mencakup semuanya Dengan dua jari, Adi menjepit dan memilin-milin putingnya yang terasa mengganjal Sebentar saja, benda itu telah menjadi begitu kaku dan keras, sama dengan kontolnya yang saat ini mulai dijilat dan diciumi oleh Marwah

Saling mengulum kemaluan, mereka saat ini berposisi 69 Marwah di atas dan Adi di bawah Menonton kontol Adi yang menjadi kian keras dan panjang membikin Marwah sehingga tidak tahan Maka sambil menyodorkan memeknya ke mulut mungil si bocah, ia pun mulai menunduk untuk mengulum dan menjilati batang penis Adi

Adi yang mendapat tambahan rangsangan dari Marwah, memekik gembira Dengan penuh nafsu ia menjilat dan menghisap memek sempit si bunda muda, sementara kedua tangannya terus bergerilya meremas-remas gundukan tetek besar Marwah yang kini menggantung indah di balik bajunya dan telah tidak tertutup BH

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sebelum akhirnya Marwah bangkit dan mulai mengangkangi tubuh Adi Menghadap lurus ke arah si bocah, Marwah menaruh kedua lututnya di atas balai-balai gubuk yang terbuat dari bambu

Ditangkapnya burung Adi yang telah menyundul-nyundul tidak sabar di depan pintu gerbang surganya, lalu dituntunnya benda itu supaya segera memasukinya dengan cara perlahan Memek Marwah terasa sangat lengket dan basah, campuran antara cairan kewanitaannya yang merembes keluar dan air liur Adi Marwah terus menekan tubuhnya ke bawah saat batang penis Adi telah menyelinap masuk

”Oughhh…” Adi merintih dengan nafsu birahi begitu merasakan kehangatan lubang memek Marwah yang menyelimuti batang penisnya Lorongnya terasa begitu lembut dan hangat, juga sangat menggigit sekali hingga membikin Adi yang doyan onani sehingga merem melek keenakan

Sambil mengoyang perlahan-lahan, Marwah berpura-pura lagi menjaga bebeknya Ketika ada seseorang lewat di pematang seberang, dirinya sengaja berteriak-teriak menghalau bebek-bebeknya Orang itu tersenyum dan menyapa Marwah, ”Giat amat, Mbak Marwah Pagi-pagi telah ke sawah ”

Menahan desahannya, Marwah tersenyum dan menjawab, ”Iya nih, Pak, oughhh… bebeknya nakal, ahh… suka nyosor ke sawah orang, ughh!”

Petani tua yang menyapanya memicingkan mata, ”Mbak Marwah nggak apa-apa? Kok kayak kesakitan gitu?” tanyanya curiga

Marwah kembali tersenyum, ”B-tidak sedikit semut, ehss… pada ngegigit kaki saya!”

Pak Tua tersenyum, ”Hati-hati, Mbak. Disini semutnya nakal-nakal, sukanya gigit wanita cantik ”

”I-iya, Pak, arghhh!” Marwah memekik Saat itu, berbaring di bawah tubuhnya, Adi menggenjot penisnya terus keras Begitu kencangnya tusukan itu hingga berbagai kali kontolnya yang panjang menembus memek Marwah hingga ke pangkal Marwah sehingga kelojotan dibuatnya Ia merasa sangat nikmat sekali

Tetap tersenyum, sambil geleng-geleng kepala, si Petani Tua berangkat meninggalkan Marwah Dirinya meneruskan langkah menuju ke sawahnya sendiri

”Eghh… Budhe!” Adi memeluk kedua paha Marwah dan menggoyang pinggulnya terus cepat Dirinya juga merasa nikmatnya nafsu birahi, bahkan lebih nikmat daripada yang dirasakan Marwah, mungkin sebab ini merupakan persetubuhan pertamanya

Setiap hari, setiap kali angon kambing, Adi rutin berfantasi dan berkata mengenai kecantikan Marwah dengan kawan-kawannya Bocah-bocah kecil itu ramai ngomongin alangkah molek dan montok nya bunda muda itu Berbagai kali mereka saling menantang, bertanya siapa yang berani menggoda Marwah duluan Dan hingga berbulan-bulan, nyatanya hanya Adi yang berani mendekatinya

BACA JUGA  Cerita Seks Membawa Ketagihan

Dan kini dirinya memperoleh hasilnya, Adi bisa merasakan tubuh montok Marwah meski dalam situasi yang sangat menegangkan Tapi justru itu yang bikin nikmat, rasa deg-degan sebab takut terpergok membikin mereka meresapi setiap detik tautan alat kelamin mereka

Memandang sekeliling, Marwah memastikan kalau tidak ada lagi orang yang lewat Sambil terus menggoyang tubuhnya dari atas, ia terus kencang menekan pinggulnya jauh ke bawah, membikin kontol Adi sehingga menusuk dan menancap lebih dalam

Mereka memekik bersamaan, lumayan keras terdengar, tapi untung ada suara celoteh bebek-bebek yang menyamarkannya Marwah membungkuk dan mengeluarkan tetek besar nya dari balik jubah, ia meminta Adi untuk menghisapnya ”Ini kan yang kau inginkan?” tanyanya dengan kerlingan nakal

Tak menjawab, Adi segera menyosor benda bulat itu Gerakan mulutnya secepat paruh para bebek yang lagi berebutan cacing Bedanya, hari ini puting Marwah lah yang menjadi sasarannya Adi mencucup dan menghisapnya dengan rakus Ia menjilatinya dengan cara bergantian, dua-duanya ia garap dengan cara adil, dari kiri ke kanan, lalu balik lagi lagi ke kiri Kalau telah kelelahan, ia benamkan mukanya ke belahannya yang curam

”Auw!” Marwah memekik kegelian menerimanya, tapi bukannya berhenti, ia malah meminta Adi supaya menggigit-gigit ringan putingnya Dengan bahagia hati, Adipun melakukannya Dan Marwah terus kelojotan dibuatnya, ia terus menekan tubunnya hingga dirasakannya Adi orgasme tidak lama kemudian Sperma bocah itu berhamburan memenuhi lubang memeknya

”Budhe, aku keluar!” pekik bocah itu sambil meremas kuat-kuat tetek besar Marwah

Marwah terdiam, membiarkan Adi menikmati puncak permainannya ”Dasar bocah, baru sebentar telah keluar ” batinnya dalam hati Tapi Marwah tidak bisa menyalahkannya juga Siapa juga yang bisa tahan main lama dengannya? Jangankan Adi yang tetap aroma kencur, dulu suaminya saja hanya mampu bersi kukuh lima menit

”Tubuhmu terlalu nikmat, Sayang!” begitu kata suaminya beralasan kalau Marwah mendengus sedih Dan hingga laki-laki itu meninggal, Marwah tidak sempat merasakan indahnya orgasme Sehingga dirinya maklum saja kalau Adi yang baru pertama hari ini ngentot, sehingga kelihatan cupu di depannya

”Kamu salah memilih sasaran, Di ” gumam Marwah sambil membenahi pakaiannya Dirinya telah mencabut penis Adi dari belahan memeknya dan kini menyuruh bocah nakal itu untuk mencuci tubuhnya di sungai Marwah menyusul tidak lama kemudian Jongkok di tepi sungai, ia membilas lubang kencingnya yang penuh oleh sperma Adi

”Budhe, punyaku bangun lagi ” seru Adi yang duduk di sebelahnya

Marwah menoleh, dan mendapati kontol Adi yang telah tegang kembali ”Kenapa, kalian pengen lagi?” tanya Marwah menggoda Dirinya memegangi penis itu dan kembali mengocoknya pelan

Adi mengangguk malu-malu, ”Iya, Budhe ”

”Kan tadi telah,” kilah Marwah
”Tapi tetap pengen,” rengek Adi manja

”Besok lagi ya? Kini Budhe wajib pulang, telah siang ” Marwah melepas kontol Adi, membikin si bocah melenguh sedih

”Besok? Disini? Seperti tadi? tanya Adi penasaran

Marwah tersenyum dan mengangguk Hatinya gembira, dirinya saat ini telah punya ’kawan’ yang bisa menolongnya melepas birahi, meski itu merupakan Adi, anak tetangganya yang baru berumur tujuh belas tahun Tapi tidak apa, biarpun tetap kecil, tapi kontolnya telah keras dan panjang Dan kalau dilatih dengan benar, dengan bimbingan Marwah pastinya, sebentar lagi benda itu bakal menjadi dewasa dan siap untuk dipakai sepenuhnya

“Gimana, Budhe?” tanya Adi lagi, menagih janji Marwah

Marwah mengangguk “Iya, disini Tapi ingat, kalian wajib jaga rahasia ini. Kalau hingga ada orang yang tahu, bisa-bisa kalian bakal dibunuh orang Kalian nggak mau kan itu terjadi?” ancam Marwah

Adi mengangguk setuju

***

Esoknya, seusai mengikat kambing-kambingnya ke pohon terdekat, Adi mendekati Marwah yang telah menantikan di dalam gubuk ”Pagi, Budhe?” sapanya ramah

Marwah melirik celana bocah itu, tampak telah ada sedikit tonjolan disana, Adi rupanya telah tidak sabar ”Kok bawa kambing, kemana ayahmu?” tanya Marwah basa-basi

Tidak menjawab, Adi malah meloncat duduk di samping Marwah dan langsung menjulurkan tangannya untuk meremas-remas tetek besar Marwah yang tersembunyi di balik baju kurung ”Adi kangen ini, Budhe ” kata bocah itu

Marwah tersenyum dan tetap membiarkan Adi melakukannya ”Budhe juga kangen ini?” balas Marwah sambil mengelus-elus kontol Adi dari luar celana Lumayan lama mereka saling merangsang hingga ada berbagai orang ibu-ibu yang lewat di belakang gubuk

Marwah segera berpura-pura menawari Adi minum kopi ”Cepat minum, Di, sebelum keburu dingin!”

Adi langsung menenggaknya, sama sekali tidak menyangka kalau kopi itu tetap sangat panas Dirinya langsung mengaduh sambil jingkrak-jingkrak, lidahnya serasa terbakar Para bunda tertawa menontonnya, bahkan Marwah juga ikutan tertawa Adi sehingga tersipu sebab sehingga bahan tertawaan Tapi untunglah, sebab tingkahnya itu, sehingga tidak ada yang curiga dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Marwah

”Dapat kue apa, Di, dari Budhe Marwah?” tanya salah seorang bunda Mereka rupanya hendak menuju sawah Haji karim yang hari ini dipanen

Adipun menjawab sekenanya, ”Ini, ada singkong goreng Tapi tetap belum boleh dimakan, nunggu dibuka dulu ”

ibu-ibu tertawa mendengarnya, seusai pamit pada Marwah, mereka melanjutkan perjalanan Marwah yang mengerti apa yang dimaksud oleh Adi, langsung menjitak kepala bocah itu kuat-kuat

”Hati-hati kalau bicara, kan telah Budhe peringatkan kemarin ” ancam Marwah
”I-iya, Budhe ” sambil mengusap-usap kepalanya yang sehingga benjol, Adi menjawab takut-takut

Marwah sehingga kasihan menontonnya Seusai menonton sekeliling, memastikan kalau situasi aman, iapun mengatakan pada Adi ”Udah… sini, kini kalian rebahan di pahaku Kepalamu di sini,” Marwah menunjuk pangkal paha di bawah perutnya ”Kamu hisap tetek besar Budhe biar lidahmu sehingga dingin lagi ” kata Marwah, merujuk pada kekonyolan Adi tadi

Mengangguk kesenengan, Adipun merebahkan kepalanya di paha Marwah, dinantikannya Marwah yang sedang sibuk melepas kancing baju panjangnya Tersenyum, Marwah mengeluarkan tetek besar nya dan memberbaginya pada Adi, ia hebat keluar dua-duanya, menyaapabilan pemandangan yang sangat indah di mata si bocah

Tak berkedip, Adi segera mencium dan mengulumnya, ia hisap putingnya yang bulat runcing bergantian, kiri dan kanan Bagaikan bayi yang kehausan, mulutnya terus menempel di dada Marwah Dengan jilbab lebarnya, Marwah menyembunyikan kepala Adi, membikin lakukanan mesum mereka sehingga terasa aman

Di segi lain, Marwah juga tidak mau tinggal diam, dirinya mulai mengelus-elus burung Adi Tidak puas dari luar celana, ia masukkan tangannya ke dalam celana si bocah Tetap tidak puas juga, akhirnya ia pelorotkan celana singkat Adi ke bawah hingga kontolnya yang telah menegang dahsyat terlontar keluar

Marwah segera meringkus dan menggenggamnya, lalu dengan perlahan mulai dielusnya Sementara Adi terus menghisap tetek besar nya dengan cara bergantian, Marwah mulai mengocok benda itu kuat-kuat, ia sangatlah gemas dengan kontol muda Adi

”Ehm… ehss… enak, Budhe!” desis Adi dengan mulut tetap menempel di puting Marwah, kini benda itu telah terkesan basah dan memerah sebab air liurnya

Marwah membalas dengan mengocok penis Adi terus cepat, dan saat ia telah mulai tidak tahan, cepat-cepat Marwah menyingkap baju panjangnya dan berbaring telentang di papan Sedikit tidak sabar, ia bimbing Adi supaya segera menindih tubuhnya

Gemas ditangkapnya burung bocah itu lalu cepat dimasukkannya ke dalam memek saat Adi tampak kesusahan melakukannya Begitu telah masuk, reflek Adi segera memompa tubuhnya, membikin alat kelamin mereka sekali lagi saling mengisi dan menggesek

Mereka melenguh berbarengan, juga merintih bersama-sama, dan berkeringat berdua hingga akhirnya Adi melepaskan spermanya tidak lama kemudian Sama seperti kemarin, Marwah juga belum apa-apa Ia baru merasa nikmat, tapi Adi telah keburu terkapar duluan Tapi lumayan, telah sedikit lebih lama dari kemarin

Adi segera mencabut penisnya dan duduk terengah-engah di samping Marwah, ia menonton sekeliling sembari membenahi celananya

“Bagaimana, ada orang” tanya Marwah yang tetap tiduran Tangannya hebat kembali bajunya ke bawah hingga menutup ke mata kaki Untuk tetek besar nya, tetap ia biarkan terbuka sebab Adi tetap mengusap-usap dan meremas-remasnya pelan Bocah itu tampak sangat menyukainya

Tidak menjawab, mata Adi tetap awas menonton sekeliling Sementara tangannya juga tetap berada di atas gundukan tetek besar Marwah, meremas-remas lembut disana sambil sesekali memijit dan menjepit putingnya yang bulat mungil

Merasa diperdayai, Marwah segera bangkit dan duduk di samping Adi Benar, sawah kelihatan sepi, sama sekali tidak ada orang Ia segera menjitak kepala bocah itu keras-keras, ”Dasar kamu, ya!” umpatnya sebab telah dibohongi

Adi tertawa cengengesan sambil mengusap-usap kepalanya yang nyeri, sama sekali tidak kelihatan marah Malah dirinya mengundang Marwah untuk berangkat ke sungai membersihkan diri

BACA JUGA  Cerita Seks Dengan Pramugari Genit

Sejak itu, hubungan mereka menjadi terus ’akrab’ Adi setiap hari meminta jatah terhadap Marwah, dirinya telah tidak malu-malu lagi melakukannya, sepertinya dirinya telah ketagihan dengan tubuh molek bunda muda itu Marwah yang menontonnya, sehingga punya ide lain

Dengan bahagia hati ia memberbagi tubuhnya pada Adi dengan sedikit permintaan; disuruhnya Adi ini dan itu, mulai dari menjaga bebek hingga membawa pakan ternak yang beratnya minta ampun Tapi Adi tampak bahagia-bahagia saja melakukannya, yang penting ia bisa merasakan tubuh mulus Marwah

Hubungan itu terus berjalan hingga tanpa terasa telah memasuki bulan ketiga Adi telah terus pakar dan pintar, berbagai kali ia bisa mengantar Marwah menuju orgasmenya. Marwah bahagia bukan main menerimanya, ia terus sayang pada bocah itu Untuk jaga-jaga, Marwah ikut KB Tiap hari ia minum pil supaya tidak hingga hamil Hubungan ini tidak boleh hingga beres

Dan bukan hanya mereka berdua yang bahagia, orang tua Adi juga ikut gembira sebab anaknya diperlakukan dengan baik oleh Marwah Mereka ikhlas saja melepas Adi, bahkan menyuruh bocah itu supaya tidak segan menolong Marwah bila ada kesusahan Umpama seperti hari ini, saat Marwah sibuk membikin telor asin, dengan bahagia hati orang tua Adi mengijinkan anak mereka supaya menginap di rumah Marwah

”Biar bisa cepat beres,” begitu kata ayahnya

Marwah tersenyum dan mengucapkan terima kasih Di belakang, Adi bersorak gembira sebab tadi siang, Marwah menjanapabilannya sesuatu yang ’spesial’, dengan syarat dirinya mau tidur di rumahnya Adi sehingga tidak sabar menantikan, apakah sesuatu yang spesial itu?

Malam bergerak lamban bagi Adi Hingga pukul 21 00, mereka tetap mengerjakan pesanan telor payau yang tinggal sedikit lagi beres Di luar, suasana lumayan sepi Di Desa itu terbukti jarang yang keluar malam Kelelahan seusai bekerja seharian di ladang membikin tidak sedikit rumah yang telah menutup pintu, bahkan ketidak sedikitan yang mematikan lampu Tidak terkecuali kediaman Marwah, bahkan anak dan orang tua Marwah telah pada tidur sejak sore tadi Hanya tinggal Adi dan Marwah yang tetap melek di malam yang dingin itu

Adi yang telah tidak sabar segera mencolek lengan Marwah, ”Gimana, Budhe?” tanyanya konak

Marwah membalas dengan mengusap pelan kontol Ade, benda itu terasa telah mengeras dan menegang penuh ”Sabar, tinggal sedikit lagi ” bisiknya

Adi memindahkan tangannya ke gundukan tetek besar Marwah, membikin baju kurung yang dikenakan wanita itu sehingga bernoda tanah saat dirinya mulai meremas-remas pelan disana Marwah hanya mendesah, tapi tidak menolak Sambil terus membikin telor asin, dirinya membiarkan tangan Adi tetap berkreasi

Sekarang bocah itu malah telah memasukkan jari-jemarinya ke sela kancing baju Marwah, menyentuh gundukan payudara nya dengan cara langsung dan memilin-milin putingnya yang telah mulai terasa sedikit mengeras Marwah sadar, Adi telah sangatlah pengen, nafsu bocah itu telah tidak bisa ditangguhkan lagi

Meletakkan telornya yang tinggal sekeranjang lagi, Marwah segera mengundang Adi untuk mencuci tangan ke sumur belakang Seusai itu ia segera menuntun si bocah masuk ke dalam kamarnya Saat melalui dapur, Marwah mengambil sedikit minyak goreng, ditaruhnya di dalam suatu mangkok kecil

”Buat apa, Budhe?” tanya Adi penasaran
“Ini yang kubilang spesial kemarin,” sahut Marwah
”Budhe mau menggoreng ikan di kamar?” tanya Adi polos

Tawa Marwah meledak mendengarnya, ”Telah, kalian diam saja ”

Mereka masuk ke kamar dan Marwah segera mengunci pintunya Dua anaknya telah tidur di kamar yang lain, sedang yang terkecil lebih tidak jarang tidur bersama neneknya Marwah tidur sendiri di kamar ini Tapi tidak malam ini, kini ia dikawani Adi, yang telah ditelanjanginya hingga bugil dan disuruhnya berbaring di atas ranjang Marwah telah melapisi spreinya dengan plastik putih tipis transaparan

”Panas, Budhe ” Adi mengomentari alas tidurnya yang aneh

Marwah tersenyum saja, tapi tidak menjawab Ia mulai mencopoti seluruh bajunya hingga tidak lama kemudian telah sama-sama bugil Kontol Adi tampak terus menegang dahsyat menonton tubuh montok Marwah yang tersaji indah di depannya Inilah untuk pertama kalinya ia menonton tubuh Budhenya dengan cara utuh, dalam jarak yang begitu dekat, tanpa butuh wajib mengintip seperti yang dilakukannya dulu

Tetap tersenyum, Marwah segera berjalan mendekat sambil membawa mangkok berisi minyak goreng Ia duduk di samping Adi Dibiarkannya tangan Adi yang nakal mulai merambat untuk mengelus-elus seluruh tubuhnya ”Kamu suka tubuh Budhe?” tanya Marwah memancing sambil tangannya mulai melumuri burung Adi memakai minyak goreng Adi pasti saja langsung tersentak dibuatnya

”Ehm… suka banget, Budhe! Uughh… enak!” rintihnya saat Marwah mulai mengocok kontolnya pelan

Marwah kembali mengucurkan minyaknya, hari ini giliran perut dan dada Adi yang menjadi target Dengan memakai gundukan tetek besar nya, Marwah kemudian menunduk untuk meratakannya Adi pasti saja langsung terkejang-kejang dipijit-pijit seperti itu Apalagi saat Marwah mulai menindih tubuhnya, dan dengan cara perlahan memasukkan penisnya yang telah menegang dahsyat ke dalam lubang memeknya… ugh, nyawa Adi bagaikan terbang ke langit ke tujuh merasakannya!

Tapi baru saja ia menggoyang, kira-kira tetap sepuluh tusukan, tiba-tiba Marwah berhenti menggerakkan pinggulnya, membikin kontol Adi yang baru merasa nikmat sehingga ngaceng tanggung ”Budhe, kok berhenti?” tanya Adi sedih

Marwah tersenyum penuh arti, ”Kamu suka, enak tidak?” tanya Marwah nakal

Adi mengangguk cepat, ”Enak banget, Budhe Ayo goyang lagi!” pintanya

Marwah menggeleng ”Ada lagi yang lebih enak, kalian pasti suka!” sambil mengatakan, dirinya turun dari tubuh Adi, membikin si bocah makin mendengus kesal sebab merasa dipermainkan

”Apaan, Budhe? Ayo cepetan!” seru Adi tidak sabar, rasanya dirinya tega untuk memperkosa Marwah kalau wanita itu terus menggodanya seperti ini

Tidak menjawab, Marwah mengambil minyak goreng lalu mulai melumuri lubang pantatnya sendiri Seusai dirasa lumayan merata, dirinya kemudian membungkuk di depan Adi, mempertontonkan lubang pantatnya yang tampak licin dan mengkilat Adi yang tidak mengerti apa yang diharapkan oleh Marwah, segera menyerbu dari belakang dan menusukkan batang kontolnya ke lubang memek si bunda muda

”Bukan yang itu, Di ” Marwah cepat mendorong tubuh Adi ke belakang ”Tapi yang ini!” dirinya menunjuk lubang anusnya

Adi celingukan, ”Apa cukup, Budhe?” tanyanya sambil membandingkan ukuran penisnya dengan lubang itu

”Lakukan saja, kelak aku tuntun,” kata Marwah tidak sabar Dirinya kembali menungging saat Adi mulai berlutut di belakangnya Cepat ditangkapnya burung bocah itu lalu ia tempelkan ujungnya yang tumpul ke lubang pantatnya “Ayo tusuk, Di Tekan yang kuat,” Marwah memberi perintah

Adi mengikuti, ia tekan kontolnya kuat-kuat hingga menembus lubang sempit itu Ia merasakan bagaimana cengkeraman lubang anus Marwah bagaikan mencekik burungnya, tapi tetap berusaha ia tahan sebab di segi lain ia juga merasa nikmat sebabnya Adi merasa kontolnya bagaikan diremas-remas dan dielus-elus ringan oleh lorong anus Marwah

“Ayo goyang, Di,” bisik Marwah saat rasa kebas di pantatnya telah mulai hilang

Adi melakukannya, ia mulai menggoyang pinggulnya perlahan hingga batang penisnya yang besar bergerak keluar-masuk dengan pelan di dalam lubang sempit Marwah ”Eghs… Terus, Di… ughh… enak!” desah Marwah keenakan Mereka terus berada dalam posisi seperti itu hingga berbagai menit lamanya

Sambil menggoyang, Adi menggapai tetek besar Marwah yang menggantung indah di depannya untuk dipakainya sebagai pegangan Putingnya yang mungil ia pilin-pilin kuat saat penisnya keluar-masuk terus cepat di pantat perempuan cantik itu

”Ough… enak, Di! Terus! Tusuk yang dalam! Ahh…” Marwah menggeleng-gelengkan kepala, merasa sangat nikmat sekali Telah lama ia tidak merasakan yang seperti ini, terbaru dengan suaminya berbagai tahun yang lalu, itupun tidak lama sebab sang suami lebih suka mencoblos liang memeknya daripada lubang pantatnya Dengan Adi, Marwah sehingga bisa menyalurkan fantasinya yang tertunda

”Arghhh… Adi… aku… oughhh…” tidak mampu meneruskan kata-katanya, Marwah meledak tidak lama kemudian Ia orgasme, air cintanya tumpah ruah membasahi plastik bening di atas sprei

Adi sedikit kaget dibuatnya, ia sempat menghentikan goyangannya sebentar untuk mengintip apa yang terjadi Saat tahu kalau Marwah baik-baik saja, bahkan wanita itu terkesan puas dan bahagia sekali, barulah Adi meneruskan genjotannya, bahkan hari ini menjadi lebih cepat sebab ia juga merasa tidak tahan lagi Jepitan anus Marwah yang sangat ketat dan kuat mustahil untuk dilawan

”Arghhhh… Budhe!” menjerit tidak kalah keras, Adi memeluk kuat tubuh montok Marwah dan menusukkan penisnya sedalam mungkin ke lubang dubur perempuan cantik itu, disana ia melepaskan semua spermanya berkali-kali

Marwah si tetek besar tersenyum, semua pelajarannya untuk mendewasakan Adi saat ini tuntas telah Anak itu telah resmi menjadi lelaki dewasa Dipeluknya tubuh kurus Adi yang roboh kelelahan di atas ranjang, ditunggunya hingga Adi siap untuk ronde yang kedua.

Malam ini merupakan malam spesial, mereka tidak boleh tidur! Adi wajib meremas tetek besar milik janda muda itu

author
No Response

Comments are closed.